IHSG Melemah 0,73 Persen ke Level 6.127,32 saat Jeda Siang
- 19 Jun 2026 13:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG melemah 0,73 persen atau 45,02 poin ke level 6.127,32 pada jeda siang perdagangan Jumat
- Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pasar masih mencermati implementasi perjanjian damai AS-Iran dan prospek kebijakan moneter ketat The Fed
- Investor juga memperhatikan hasil penilaian MSCI yang menyoroti aspek tata kelola, transparansi, dan arus informasi di pasar modal Indonesia
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 0,73 persen atau 45,02 poin ke level 6.127,32, setelah dibuka pada angka 6.161,46.
Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.215,06. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 6.117,3.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 0,73 persen atau 45,02 poin ke level 6.127,32, setelah dibuka pada angka 6.161,46.
Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.215,06. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 6.117,3.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan yang terjadi di sejumlah bursa Asia menjelang akhir pekan. Sentimen pasar dipengaruhi kehati-hatian investor mencermati perkembangan geopolitik global serta prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.
"Pergerakan pasar dibayangi implementasi perjanjian damai tentatif Amerika Serikat dan Iran. Serta kekhawatiran terhadap prospek kebijakan moneter ketat The Fed," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Jumat, 19 Juni 2026.
Menurut Pilarmas, meski konflik AS-Iran mulai mereda dan menekan harga minyak global, pasar masih mencermati sinyal hawkish The Fed. Proyeksi terbaru menunjukkan sebagian anggota Federal Open Market Committee (FOMC) masih memperkirakan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Dari dalam negeri, Pilarmas menilai perhatian investor juga tertuju pada hasil MSCI Global Market Accessibility Review. Laporan tersebut menyoroti aspek transparansi kepemilikan saham dan arus informasi yang dinilai masih perlu diperbaiki di pasar modal Indonesia.
"MSCI menekankan bahwa persoalan utama pasar modal Indonesia bukan pada likuiditas atau ukuran pasar. Melainkan pada aspek tata kelola, transparansi, dan keterbukaan informasi," ujar Tim Pilarmas.
Menurut Pilarmas, sorotan tersebut berpotensi meningkatkan persepsi risiko investor global terhadap pasar modal Indonesia. Meski demikian, Indonesia dinilai masih layak berada dalam kategori emerging market dengan sejumlah perbaikan yang perlu terus dilakukan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....