Rupiah Terus Melemah, Kembali Sentuh Level Rp17.800 per Dolar AS

  • 19 Jun 2026 13:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 10.00 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.805 per dolar AS. Nilai tukar rupiah turun 0,06 persen atau 11 poin dibandingkan hari sebelumnya
  • Sementara itu, indeks dolar AS hari ini bergerak di kisaran 100,82-101. Indeks dolar AS, menurut Lukman, mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun
  • Kekhawatiran akan pasokan minyak mentah dunia akibat perang AS-Iran masih belum pulih. Kekhawatiran ini mendorong penguatan dolar AS

RRI.CO.ID, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah masih berlanjut dalam pembukaan perdagangan hari ini. Pada Kamis kemarin, rupiah ditutup turun sebesar 0,18 persen atau 32 poin ke posisi Rp17.794 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 10.00 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.805 per dolar AS. Nilai tukar rupiah turun 0,06 persen atau 11 poin dibandingkan hari sebelumnya.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS hari ini. Dolar AS menguat di tengah meningkatnya prospek kenaikan suku bunga the Fed," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat, 19 Juni 2026.

Bank Sentral AS, the Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga satu kali tahun ini. Isyarat itu disampaikan saat pengumuman hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Kamis kemarin.

Sementara itu, indeks dolar AS hari ini bergerak di kisaran 100,82-101. Indeks dolar AS, menurut Lukman, mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun.

"Kekhawatiran akan pasokan minyak mentah dunia akibat perang AS-Iran masih belum pulih. Kekhawatiran ini mendorong penguatan dolar AS," ujar Lukman.

Dia memprakirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS hari ini. Lukman juga mengatakan pengumuman MSCI Accessibility Review juga bisa mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Laporan MSCI menunjukkan pasar modal Indonesia masih masuk di katagori Emerging Market. Namun masih ada persoalan yang disoroti MSCI terkait tranparansi dan perilaku perdagangan terkordinasi yang mempengaruhi pembentukan harga saham.

"Saya melihat pengumuman ini cukup dapat diterima investor," ucap Lukman. Selanjutnya, investor masih menunggu hasil review MSCI terkait klasifikasi pasar modal yang akan disampaikan pada 24 Juni mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....