Harga Emas Diprakirakan Kembali Berkilau Bulan Juni Ini
- 15 Jun 2026 14:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- rakirakan akan kembali berkilau, jika AS dan Iran jadi menandatangani nota kesepahaman perjanjian damai
- Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memprakirakan, harga emas menuju USD4.875 per troi ons bulan Juni 2026
- Secara fundamental, selain faktor geopolitik, kebijakan the Fed juga akan mempengaruhi harga emas sepekan ke depan
RRI.CO.ID, Jakarta - Harga emas diprakirakan akan kembali berkilau, jika AS dan Iran jadi menandatangani nota kesepahaman perjanjian damai. Harga minyak yang turun, dolar AS yang melemah, akan mendorong investor mengalihkan investasinya ke emas.
“Penjanjian damai antara AS-Iran dan dibukanya kembali selat Hormuz, akan membuat harga emas kembali berkilau. Perkiraannya, bulan ini harga emas menuju USD4.875 per troi ons,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuibi, Senin, 15 Juni 2026.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan, AS sudah bersedia berdamai dengan Iran. Penandatanganan nota kesepahaman perjanjian perdamaian rencananya akan dilakukan di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Sementara itu, harga emas dunia hari ini berdasarkan laman harga-emas.org berada di level USD4.308,98 per troi ons. Harga logam mulia Antam hari ini di posisi Rp2.729.000 per gram.
Ibrahim memprakirakan pergerakan harga emas sepekan ke depan, di level support antara USD4.058-USD3.929 per troi ons. Sedangkan harga logam mulia antara Rp2.610.00-Rp2.500.000 per gram.
“Itu jika harga emas dunia terkoreksi. Jika pekan ini harga emas menguat, maka akan bergerak di level resistansi antara USD4.394-USD4.571 per troi ons,” ucap Ibrahim.
Sedangkan harga logam mulia, secara teknikal level resistansinya akan bergerak di kisaran Rp2.740.000-Rp2.880.000 per gram. Secara fundamental, selain faktor geopolitik, kebijakan the Fed juga akan mempengaruhi harga emas sepekan ke depan.
Bank-bank sentral lainnya seperti Bank Sentral Eropa, Bank Of England, dan Bank of Japan akan memutuskan kebijakan suku bunga minggu depan. Perkiraannya, menurut Ibrahim, bank-bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga akibat laju inflasi tinggi dampak kenaikan harga minyak.
Di AS, data indeks harga konsumen dan indeks harga produsen mengalami kenaikan signifikan pada bulan Mei 2026. Sehingga the Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga, bahkan menaikkan suku bunga.
“Kecuali nota kesepahaman damai AS-Iran jadi ditandatangani dan harga minyak dunia terus turun. Kondisi itu akan berdampak positif dan the Fed berpeluang menurunkan suku bunga,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....