IHSG Menguat 5,03 Persen pada Jeda Siang Perdagangan Hari Ini
- 15 Jun 2026 12:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG menguat 5,03 persen ke level 6.309,73 pada penutupan sesi I perdagangan.
- Sentimen global membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak dunia.
- Investor masih menunggu kepastian kebijakan ekonomi domestik untuk memperkuat pemulihan pasar.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi menguat saat jeda siang perdagangan, Senin, 15 Juni 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat di level 6.309,73 atau naik 302,07 poin (5,03 persen).
Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam waktu dekat. Menurutnya, indeks berpotensi menguji level resistance 6.233 selama mampu bertahan di atas area support 5.900.
“Sentimen global yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tekanan utama pasar kini mulai menunjukkan perbaikan. Kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membuka kembali jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz, menurunkan kekhawatiran pasar," ujarnya pada Senin, 15 Juni 2026.
Hendra mengatakan meredanya ketegangan geopolitik turut mendorong penurunan harga minyak dunia. Kondisi tersebut membantu menekan inflasi global dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.
Menurutnya, perbaikan sentimen global juga terlihat dari penguatan mayoritas bursa saham dunia. Selain itu, indeks volatilitas VIX tercatat menurun yang menandakan tingkat kekhawatiran investor mulai mereda.
“Hal ini menunjukkan tingkat ketakutan investor mulai mereda,” ujarnya. Menurut Hendra, persepsi risiko terhadap aset Indonesia juga mulai membaik.
Ia menambahkan, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun mengalami penurunan. Sementara itu, ETF Indonesia atau EIDO yang diperdagangkan di Amerika Serikat menunjukkan tren kenaikan.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang masuknya kembali aliran dana asing ke pasar domestik. Namun, Hendra mengingatkan tantangan terbesar saat ini masih berasal dari faktor dalam negeri.
“Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi dan kepastian regulasi. Begitu pula efisiensi belanja negara, serta pengelolaan anggaran yang lebih kredibel,” ujarnya.
Menurut Hendra, ketidakpastian kebijakan domestik dalam beberapa bulan terakhir justru lebih membebani pasar dibandingkan sentimen global. Karena itu, pemerintah perlu memberikan sinyal yang konsisten terkait keberlanjutan fiskal untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha.
Hendra menegaskan peluang penguatan IHSG masih terbuka selama mampu bertahan di atas level 5.900. Namun, tren bullish yang lebih kuat membutuhkan dukungan berupa masuknya dana asing secara konsisten ke pasar saham domestik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....