IHSG Dibuka Naik ke Level 6.118, Optimisme Pasar Kian Meningkat
- 15 Jun 2026 09:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG mengalami kenaikan pada pembukaan perdagangan Senin, 15 Juni 2026, ke level 6.118,72.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami kenaikan pada pembukaan perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level 6.118,72.
Ini berarti naik 111,06 poin atau sekitar 1,85 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat 12 Juni 2026. Penguatan ini terjadi di tengah membaiknya sentimen global yang mendorong optimisme pelaku pasar.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan ini. Menurut dia, indeks berpotensi menguji area resistance pada level 6.233, sementara level 5.900 menjadi support penting yang perlu dipertahankan.
“Sentimen global yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tekanan utama pasar kini mulai menunjukkan perbaikan,” ujarnya. “Kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membuka kembali jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz, menurunkan kekhawatiran pasar.”
Menurut Hendra, penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi global. Ini sekaligus meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham di negara berkembang seperti Indonesia.
Perbaikan sentimen global juga tercermin dari penguatan mayoritas bursa saham dunia. Indeks utama di AS, Eropa, dan Asia ditutup naik, sementara indeks volatilitas VIX mengalami penurunan signifikan.
“Hal ini menunjukkan tingkat ketakutan investor mulai mereda,” ujarnya. Menurut Hendra, persepsi risiko terhadap aset Indonesia juga mulai membaik.
Di sisi lain, yield obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dilaporkan mengalami penurunan. Sedangkan ETF Indonesia atau EIDO yang diperdagangkan di AS menunjukkan kenaikan.
Hendra menilai kondisi tersebut membuka peluang masuknya kembali aliran dana asing ke pasar domestik. Namun, dia mengingatkan tantangan terbesar saat ini justru berasal dari dalam negeri.
“Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi, kepastian regulasi, efisiensi belanja negara, serta pengelolaan anggaran yang lebih kredibel,” ujarnya. Hendra menambahkan ketidakpastian kebijakan domestik selama beberapa bulan terakhir lebih banyak membebani pasar dibandingkan faktor global.
Karena itu, pemerintah diharapkan mampu memberikan sinyal konsisten terkait keberlanjutan fiskal untuk menjaga kepercayaan dunia usaha. “Sehingga potensi pemulihan pasar saham Indonesia akan semakin besar,” katanya.
Hendra menegaskan selama IHSG mampu bertahan di atas level 5.900, peluang kenaikan menuju area 6.233 masih terbuka. Namun, untuk kembali memasuki tren bullish yang lebih kuat, pasar membutuhkan dukungan berupa masuknya dana asing secara konsisten.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....