IHSG Melemah di Jeda Siang Perdagangan berada di Level 5434,30
- 08 Jun 2026 12:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG melemah 2,87 persen atau 160,459 poin pada jeda siang perdagangan 8 Juni 2026 hingga berada di level 5.434,30
- Tekanan jual investor asing masih membayangi pasar, dengan aliran dana keluar mencapai Rp3,72 triliun pada perdagangan sebelumnya
- Sentimen negatif berasal dari pelemahan rupiah, spekulasi RDG darurat BI, isu pergantian pejabat ekonomi, serta kekhawatiran penurunan rating dan status pasar Indonesia
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 2,87% atau 160,459 poin ke level 5434,30.
Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 5523,94. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 5346,33.
Sebelumnya, IHSG dibuka melemah pada perdagangan. Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di zona merah di level 5.486,31, turun sekitar 108,45 poin atau 1,94 persen.
“IHSG berpotensi tes di level support pada 5.450-5.500,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Senin, 8 Juni 2026. Jika kuat di support tersebut, lanjut dia, IHSG berpotensi untuk rebound atau berbalik menguat.
Menurut Fanny, IHSG akan bergerak di level support pada rentang 5.450-5.500. Sedangkan di level resistansi IHSG akan bergerak pada rentang 5.680-5.800.
Fanny menambahkan, IHSG masih mengalami tekanan jual oleh investor asing. Pada Jumat 5 Juni 2026 terjadi aliran keluar modal asing yang cukup signifikan yaitu sebesar Rp3,72 triliun.
Saham-saham yang paling banyak dijual asing dalam perdagangan akhir kemarin adalah TPIA, BBCA, BMRI, ANTM dan BBRI. Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas memprakirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif.
Sementara itu, Tim Phintraco memprakirakan level support IHSG akan bergerak pada rentang 5.400-5.500 dan resistansi pada 5.700-5.800. “Hal-hal yang dapat berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di antaranya pelemahan rupiah,” katanya.
Selain itu muncul spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat. Hal lain yang bisa mempengaruhi pergerakan di BEI adalah rumor pergantian Menteri Keuangan dan Gubernur BI.
“Ini ditambah kekhawatiran penurunan rating oleh S&P serta kecemasan penurunan ke Frontier Market oleh MSCI,” ucap Tim Phintraco. Belum lagi, tambahnya, sejumlah kebijakan pemerintah yang direspons negatif oleh pasar sehingga menekan IHSG lebih jauh.
Menurutnya, pelaku pasar juga sedang menunggu rilis data ekonomi seperti cadangan devisa pada Mei 2026. Kemudian indeks keyakinan konsumen serta tingkat penjualan ritel per April 2026.
Di kawasan Asia, bursa saham serempak anjlok pada akhir pekan lalu. Begitu pula dengan pasar efek di Amerika Serikat (AS) berkat aksi jual saham-saham teknologi.
"Investor global masih akan mencermati perkembangan konflik AS dan Iran,” kata Tim Phintraco. Terutama yang terkait potensi inflasi serta prospek suku bunga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....