Bursa Domestik Tertekan, IHSG Turun ke Level 5.839,78
- 04 Jun 2026 16:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup melemah 101,28 poin atau 1,7 persen ke level 5.839,78 pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026
- Pelemahan dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik dan tensi perdagangan global
- Sentimen domestik masih tertekan oleh pelemahan rupiah serta outlook negatif Moody's terhadap Danantara Investment Management
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di penutupan sesi perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 5.839,78 atau turun 101,28 poin (1,7 persen).
Setelah dibuka di level 5.919,57, IHSG terus bergerak di zona merah sepanjang perdagangan hari ini. Indeks tercatat menyentuh level tertinggi 5.924,5 dan terendah 5.644,23 sebelum penutupan pasar.
Pergerakan IHSG didominasi 623 saham melemah, 106 saham menguat, dan 85 saham stagnan. Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai 25,14 triliun.
Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 38,92 miliar lembar. Dengan frekuensi lebih dari 2,28 juta kali transaksi.
Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pelemahan bursa Asia dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong investor bersikap lebih berhati-hati terhadap risiko pertumbuhan ekonomi global.
Menurutnya, pasar juga mencermati meningkatnya tensi perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Sentimen tersebut muncul setelah rencana tarif tambahan terhadap sejumlah negara mitra dagang diumumkan.
Selain itu, Uni Eropa memperkenalkan kebijakan industri dan keamanan siber yang berpotensi membatasi perusahaan Tiongkok. Beijing pun menyatakan akan mengambil langkah balasan sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar global.
Dari dalam negeri, pelemahan IHSG terjadi di tengah sentimen pasar yang belum membaik. Tekanan faktor global dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi domestik masih membebani pergerakan indeks.
“Indeks IHSG melemah seiring sentimen pasar yang belum membaik. Tekanan faktor global dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri masih membebani pergerakan pasar,” tulis Tim Pilarmas Investindo Sekuritas, Kamis, 4 Juni 2026.
Tim Pilarmas juga menyoroti keputusan Moody's Ratings yang menetapkan outlook negatif bagi PT Danantara Investment Management. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.
Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada di atas Rp18.000. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko terhadap peringkat utang Indonesia ke depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....