Penutupan Perdagangan, Rupiah Terpuruk Mendekati Level 17.800 per Dolar AS

  • 26 Mei 2026 16:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah mendekati level 17.800 terhadap dolar AS, dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,29 persen atau 52 poin ke posisi Rp17.796 per dolar AS
  • Amerika Serikat kembali melancarkan serangan baru ke Iran di tengah proses kesepakatan perdamaian. AS berdalih serangan ke lokasi peluncuran rudal dan kapal penyebar ranjau Iran itu, sebagai upaya membela diri
  • Di dalam negeri, Ibrahim mencermati dampak pelemahan rupiah yang terus menerus pada sektor industri yang dapat mendorong semakin banyaknya PHK

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah mendekati level 17.800 terhadap dolar AS, dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,29 persen atau 52 poin ke posisi Rp17.796 per dolar AS.

Kondisi Timur Tengah yang kembali memanas, menyebabkan dolar AS terus menguat. Sehingga nilai tukar rupiah semakin tertekan.

“Amerika Serikat kembali melancarkan serangan baru ke Iran di tengah proses kesepakatan perdamaian. AS berdalih serangan ke lokasi peluncuran rudal dan kapal penyebar ranjau Iran itu, sebagai upaya membela diri,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa, 26 Mei 2026.

Iran belum merespon serangan baru ini, namun setiap aksi militer AS berpotensi mempersulit negoasiasi. Apalagi Iran berulang kali memperingatkan agar AS tidak melakukan serangan lebih lanjut.

Kemungkinan situasi yang kembali memanas di Timur Tengah, dapat mendorong kenaikan kembali harga minyak. Selain itu akan meningkatkan situasi ketidakpastian di pasar keuangan.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati dampak pelemahan rupiah yang terus menerus pada sektor industri. Industri yang masih mengimpor bahan baku akan mengalami kesulitan, karena naiknya biaya produksi.

“Sehingga berisiko akan terjadi pemutusan hubungan kerja atau PHK karena perusahaan yang melakukan efisiensi. Konflik geopolitik global dan naiknya harga bahan bakar, semakin memperburuk situasi,” ujar Ibrahim.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah PHK mencapai 15.452 orang sejak Januari-April 2026. Gelombang PHK diperkirakan masih akan berlanjut di bulan-bulan mendatang.

Ibrahim menyebut penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, menyebabkan 350 pekerja terkena PHK. Tekanan juga dialami sektor industri otomotif, tekstil, garmen dan alas kaki.

“Di Sidoarjo, Jawa Timur, CV Asri yang bergerak di sektor otomotif mem-PHK sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan. Sementara itu potensi PHK di sektor industri tekstil dan alas kaki mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....