IHSG Bergerak di Zona Merah pada Penutupan di Level 6318,5

  • 20 Mei 2026 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup turun 0,63 persen ke level 6318,5 pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026
  • Investor menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dengan proyeksi kenaikan BI Rate menjadi 5 persen
  • Tekanan pasar dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana pengaturan ekspor komoditas strategis oleh pemerintah

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di penutupan sesi perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 6318,5 atau turun 52,179 poin (0,82 persen).

Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan hari ini. IHSG dibuka pada level 6352,2 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 6459,5.

Mayoritas saham mengalami pelemahan. Tercatat sebanyak 197 saham menguat, sementara 495 saham melemah dan 124 saham stagnan.

Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp21,67 triliun. Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 40,35 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 2,4 juta kali transaksi.

Tim Analis Phintraco mengatakan investor masih menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang digelar Rabu, 20 Mei 2026. Menurut Phintraco, konsensus pasar memperkirakan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.

Kenaikan BI Rate tersebut diperkirakan bertujuan meredam pelemahan nilai tukar rupiah di pasar keuangan. Pelaku pasar juga mencermati pertumbuhan kredit April 2026 yang diprakirakan mencapai 9,7 persen secara tahunan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit Maret 2026 sebesar 9,49 persen secara tahunan. Sementara itu, Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN April 2026 sekitar Rp164,4 triliun.

Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan defisit APBN Maret 2026 sebesar Rp240,1 triliun. Tim Phintraco menyebut penurunan defisit ditopang keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus Rp28 triliun.

Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun pada April 2026, sedangkan, belanja negara tercatat mencapai Rp1.082,8 triliun. ““Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun, dan belanja negara juga naik menjadi Rp1.0828 triliun,” katanya.

Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia hingga Selasa, 19 Mei 2026. Kondisi tersebut dipicu kabar rencana pemerintah mengatur ekspor komoditas melalui badan khusus bentukan negara.

Kebijakan tersebut disebut mencakup komoditas batu bara, CPO, hingga mineral logam. Menurut Tim Phintraco, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap potensi pengendalian harga jual perusahaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....