IHSG Turun 0,60 Persen pada Jeda Siang Perdagangan Hari Ini

  • 20 Mei 2026 12:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG melemah 0,60 persen ke level 6.332,18 pada jeda siang perdagangan 20 Mei 2026
  • Pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia dan pidato Presiden Prabowo terkait RAPBN 2027
  • Tekanan jual saham dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana pengaturan ekspor komoditas oleh pemerintah

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 0,6 persen atau 38,5 poin ke level 6.332,18, setelah dibuka pada angka 6.352,2.

Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.459,56. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 6.215,56.

Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level support pada kisaran 6.250 hingga 6.300. “IHSG diperkirakan berpotensi uji level support pada 6.250-6.300,” katanya, Rabu, 20 Mei 2026.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI hari ini. Dalam agenda tersebut, Presiden menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027.

Selain itu, investor turut menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang digelar Rabu, 20 Mei 2026. Menurut Phintraco, konsensus pasar memperkirakan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.

Kenaikan BI Rate tersebut diperkirakan bertujuan meredam pelemahan nilai tukar rupiah di pasar keuangan. Pelaku pasar juga mencermati pertumbuhan kredit April 2026 yang diprakirakan mencapai 9,7 persen secara tahunan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit Maret 2026 sebesar 9,49 persen secara tahunan. Sementara itu, Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN April 2026 sekitar Rp164,4 triliun.

Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan defisit APBN Maret 2026 sebesar Rp240,1 triliun. Tim Phintraco menyebut penurunan defisit ditopang keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus Rp28 triliun.

Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun pada April 2026, sedangkan, belanja negara tercatat mencapai Rp1.082,8 triliun. ““Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun, dan belanja negara juga naik menjadi Rp1.0828 triliun,” katanya.

Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia hingga Selasa, 19 Mei 2026. Kondisi tersebut dipicu kabar rencana pemerintah mengatur ekspor komoditas melalui badan khusus bentukan negara.

Kebijakan tersebut disebut mencakup komoditas batu bara, CPO, hingga mineral logam. Menurut Tim Phintraco, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap potensi pengendalian harga jual perusahaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....