IHSG Diperkirakan Terkoreksi jelang Akhir Pekan

  • 08 Mei 2026 08:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi terkoreksi hari ini
  • Pergerakan IHSG di level support dengan rentang 7.000-7.100. Sedangkan level resistansi nya di rentang 7.200-7.280
  • Pelaku pasar mencermati perkembangan harga minyak dan prospek perdamaian AS-Iran dan akan mencermati data cadangan devisa April 2026

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi terkoreksi hari ini. Pada penutupan perdagangan Kamis kemarin, IHSG naik 1,15 persen ke level 7.174.

Namun masih terjadi aliran keluar modal asing dengan net sell (jual bersih) saham sebesar Rp360 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BMRI, BRPT, BBCA, AMMN dan ADRO.

"IHSG berpotensi koreksi hari ini, dan akan bergerak di level support dengan rentang 7.000-7.100. Sedangkan level resistansi nya di rentang 7.200-7.280," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Jumat 8 Mei 2026.

Bursa saham di Wall Street, Amerika Serikat ditutup turun pada Kamis kemarin. Pelaku pasar mencermati perkembangan harga minyak dan prospek perdamaian AS-Iran.

Indeks S&P 500 turun 0,38 persen disebabkan tekanan pada saham teknologi dan semikonduktor. Sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,13 perse. dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,63 persen.

Harga Minyak mentah WTI AS turun 0,28 persen menjadi USD 94,81 per barel. Minyak Brent juga harganya turun 1,19 persen menjadi USD100 per barel.

Sementara itu, bursa saham di Asia-Pasifik mayoritas ditutup di zona hijau. Indeks Nikkei 225 Jepang mencapai rekor tertinggi setelah libur, naik 5,58 persen.

"Indeks di Jepang melonjak, dipimpin oleh kenaikan saham sektor bahan baku, teknologi, dan keuangan," ujar Fanny. Di Hongkong, indeks Hang Seng juga naik 1,57 persen, Kospi Korea Selatan bertambah 1,43 persen.

Di dalam negeri, pelaku pasar menantikan data cadangan devisa April.2026. "Cadangan devisa diperkirakan cenderung menurun seiring dengan tren pelemahan rupiah," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

Pasar juga akan mecermatu data indeks harga propeti triwulan I 2026. Indeksnya, menurut Tim Phintraco, diperkirakan melambat menjadi 0,5 persen secara tahunan dari 0,83 persen di triwulan IV 2025.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....