Rupiah Dibuka Menguat Ditopang Ekspektasi Perdamaian AS-Iran
- 07 Mei 2026 09:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rupiah terpantau naik 0,16 persen atau 27 poin menjadi Rp17.359 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis 7 Mei 2026.
- Prospek perdamaian AS-Iran memberikan sentimen positif kepada pasar karena harga minyak dunia juga bakal turun.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis, 7 Mei 2026. Menurut Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,16 persen atau 27 poin menjadi Rp17.359 per dolar AS.
Sehari sebelumnya, rupiah ditutup menguat 0,21 persen atau 36 poin menjadi Rp17.387 per dolar AS. “Harapannya rupiah akan terapresiasi ke level Rp17.380 per dolar AS,” kata analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana.
Fikri mengatakan prospek perdamaian AS-Iran memberikan sentimen positif kepada pasar. Ini karena harga minyak dunia juga akan turun seiring berhentinya konflik.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga menyiapkan tujuh jurus strategis untuk memulihkan stabilitas nilai tukar rupiah. Di antaranya dengan memperketat aturan pembelian dolar AS domestik.
“Ini merupakan bagian dari bauran kebijakan BI dan pemerintah,” ujar analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa. Tujuannya untuk menstabilkan rupiah di tengah tekanan eksternal dan meningkatnya permintaan valas.
Kebijakan tersebut menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari sebelumnya USD100 ribu menjadi USD50 ribu. Sekarang hal itu dibatasi lagi menjadi USD25 ribu per individu per bulan
“Pembatasan dilakukan untuk menekan permintaan spekulatif dan menjaga likuiditas valas,” kata Jessica. Selain itu, lanjut dia, untuk melengkapi kebijakan lain seperti SRBI, pembelian SBN dan intervensi pasar.
Untuk memperkuat rupiah, BI juga melakukan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan total penyerapan Rp2,5 triliun. Ini merupakan yang terendah sejak Maret 2026, sementara yield meningkat di seluruh tenor pada rentang 6,1–6,5 persen.
Langkah menaikkan yield atau imbal hasil merupakan upaya meningkatkan daya tarik instrumen jangka pendek. Menurut Jessica, hal tersebut mencerminkan strategi operation twist, mendorong flattening kurva imbal hasil dan menarik aliran masuk asing.
“Namun, permintaan SRBI teta lemah dan aliran keluar modal asing terus terjadi, ucapnya. Menurut Jessica, ini menunjukkan kehati-hatian pasar serta peran BI sebagai penyangga utama stabilisasi rupiah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....