IHSG Berisiko Terkoreksi Lagi meski Sentimen Pasar Positif

  • 07 Mei 2026 08:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berisiko terkoreksi pada Kamis, 7 Mei 2026, setelah sehari sebelumnya ditutup menguat tipis 0,5 persen ke level 7.092.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diprakirakan akan bergerak dinamis pada Kamis 7 April 2026. Sehar sebelumnya, IHSG ditutup naik tipis 0,5 persen menembus level 7.092.

Menguatnya IHSG masih disertai net sell (jual bersih) saham oleh investor asing senilai Rp484 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BMRI, BRPT, BBCA, CUAN, dan TPIA.

"IHSG berpotensi akan menguji level resistansi pada 7.100-7150,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Namun, lanjut dia, jika gagal menembus level tersebut, IHSG masih berpotensi terkoreksi kembali ke level 6.850-7.000.

Fanny memprakirakan IHSG akan bergerak pada rentang 6.950-7.000 untuk level support. Sedangkan pada level resistensi, dia memproyeksikan IHSG bergerak di rentang 7.100-7.150.

Menurut dia, bursa saham global menguat saat penutupan perdagangan Rabu 6 Mei 2026. Ini karena sentimen pasar yang positif setelah melihat perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

"Indeks saham di Wall Street, AS, naik signifikan,” ujarnya. Sedangkan S&P 500 dan Nasdaq, lanjut dia, kembali mencatat rekor tertinggi.

Fanny mengatakan kenaikan tersebut didorong optimisme pelaku pasar terhadap potensi kesepakatan damai Wahsington dan Teheran. Indeks S&P 500 melonjak 1,46 persen, Nasdaq Composite naik signifikan 2,02 persen, dan Dow Jones Industrial Average melesat 1,24 persen.

Namun, ekspektasi pasar masih rapuh oleh sikap Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut kesepakatan belum pasti tercapai. Bahkan, dia memperingatkan potensi eskalasi konflik jika kesepakatan gagal.

“Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai kembali dengan skala yang jauh lebih besar,” ujar Trump melalui Truth Social. Sementara itu di kawasan Asia-Pasifik, bursa saham melesat dengan indeks Kospi Korea Selatan mencatat rekor tertinggi.

Di Negeri Ginseng, indeks Kospi melonjak hingga 6,45 persen, tetapi Kosdaq turun 0,29 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,22 persen, Taiex Taiwan naik 0,91 persen, dan ASX 200 Australia melesat 1,30 persen.

"Saham-saham unggulan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix mencapai rekor tertinggi,” kata Fanny. Menurut dia, masing-masing naik lebih dari 14 persen dan 10 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....