Rupiah Dibuka Melemah, Namun Berpeluang Berbalik Menguat Hari Ini

  • 17 Apr 2026 12:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 10.00 WIB, rupiah turun 0,23 persen menjadi Rp17.178 per dolar AS
  • Perkembangan di Timur Tengah masih menjadi faktor dominan yang akan mempengaruhi posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
  • Dari aspek ekonomi, arah pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh rilis pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok pada triwulan I 2026 kembali ke angka 5 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 10.00 WIB, rupiah turun 0,23 persen menjadi Rp17.178 per dolar AS.

Pada perdagangan Kamis, 16 April 2026 kemarin, rupiah ditutup menguat tipis 0,03 persen atau 4 poin. Sehingga posisi nilai tukar rupiah menjadi Rp17.138 per dolar AS.

Meski dibuka melemah, Analis Pasar Uang dari Valbury Sekuritas, Fikri.C Permana memperkirakan rupiah berpeluang menguat hari ini. Perkembangan di Timur Tengah masih menjadi faktor dominan yang akan mempengaruhi posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Nilai tukar rupiah kemungkinan akan terapresiasi ke posisi Rp17.120 per dolar AS," ucap Fikri dalam analisisnya, Jumat, 17 April 2026. Sementara indeks dolar AS hari ini menguat, berada di level 98.

"Risiko di Selat Hormuz trennya menurun setelah kapal Tiongkok berhasil lewat kemarin," ujar Fikri. Di sisi lain, Presiden Trump mengklaim negosiasi dengan Iran akan digelar kembali dengan mediator Pakistan.

Dari aspek ekonomi, tambah Fikri, arah pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh rilis pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok pada triwulan I 2026 kembali ke angka 5 persen.

Sementara itu, imbal hasil (yield) global menurun, termasuk di Indonesia. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun, turun ke sekitar 6,58 persen.

Sementara tenor dua tahun, yield nya melemah ke kisaran 5,92 persen. "Hal ini mencerminkan minat yang cukup kuat pada aset berdenominasi rupiah," ujar Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Menurutnya sentimen pendanaan negara mendapat dukungan tambahan dari keputusan S&P mempertahankan investment grade rating Indonesia. S&P juga menyatakan outlook untuk Indonesia stabil, berbeda dengan sikap Moody’s dan Fitch yang lebih berhati-hati.

"Pernyataan Menteri Keuangan menegaskan komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap PDB. Pernyataan itu juga membantu memperkuat persepsi disiplin fiskal dan menurunkan persepsi risiko sovereign jangka menengah," ujar Rully menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....