Pakar Sebut Pelemahan Rupiah Dipicu Gejolak Global dan Harga Minyak
- 16 Apr 2026 16:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kenaikan harga minyak membuat kebutuhan dolar untuk impor meningkat, sehingga memberi tekanan tambahan terhadap rupiah
- Kenaikan harga barang impor akan memicu lonjakan inflasi yang membebani daya beli masyarakat luas
- Ketidakpastian konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak menjadi faktor utama. Apalagi, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya memberi harapan mereda, dilaporkan gagal mencapai kesepakatan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar ekonomi Ibrahim Assuaibi memaparkan dampak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Tekanan meningkat setelah gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia memperbesar kebutuhan impor berbasis dolar. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
“Impor minyak mentah mencapai sembilan ratus ribu barel per hari. Kondisi ini sangat menekan kurs rupiah saat ini,” ujar Ibrahim dalam dialog Pro3 RRI, Jakarta, 16 April 2026.
Ia menjelaskan kenaikan harga impor akan memicu inflasi domestik. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga barang.
“Makanan siap saji sudah mengalami kenaikan harga akibat biaya produksi meningkat. Pelemahan mata uang memperparah kondisi tersebut,” katanya.
Ibrahim menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah mitigasi ekonomi. Salah satunya melalui kebijakan subsidi untuk menekan dampak harga impor.
Menurutnya, penyesuaian anggaran juga perlu dilakukan secara selektif. Program non-prioritas dapat dialihkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Penyesuaian anggaran penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Langkah ini membantu meredam dampak gejolak global,” katanya.
Selain itu, pemberantasan korupsi dinilai dapat memperkuat kondisi fiskal negara. Pengembalian dana hasil korupsi mampu menambah ruang anggaran pemerintah.
Ibrahim juga menyebut investasi logam mulia sebagai pilihan aman. Instrumen ini dinilai stabil saat nilai mata uang mengalami tekanan.
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir menghadapi kondisi ini. Fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai cukup kuat menghadapi risiko global.
Ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak menjadi faktor utama tekanan. Gagalnya kesepakatan damai memperburuk sentimen pasar global terhadap rupiah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....