IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.002,77, Investor Waspadai Potensi Koreksi
- 07 Apr 2026 09:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka menguat ke level 7.002,77 pada Selasa 7 April 2026 setelah sebelumnya mengalami pelemahan.
- Secara teknikal, IHSG berpotensi rebound ke kisaran 7.020–7.050, meski masih rentan koreksi.
- Sentimen global, khususnya konflik Timur Tengah dan pergerakan Wall Street, tetap menjadi perhatian investor.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa 7 April 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG tercatat berada di level 7.002,77 atau naik 13,34 poin (0,19 persen) dibandingkan sebelumnya.
Menurut para analis, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang menguat pada Selasa, 7 April 2026. Meski begitu, pasar tetap diingatkan untuk berhati-hati karena masih ada potensi koreksi terhadap IHSG.
“IHSG dalam jangka pendek secara teknis berpotensi berbalik menguat (rebound) ke level 7.020-7.050,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Namun, jika belum break di atas 7.050, menurut dia IHSG akan rentan koreksi.
Fanny memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 6.850-6.900 untuk level support. Sedangkan pada level resistansi, IHSG diperkirakan akan bergerak pada rentang 7.020-7.050.
Sehari sebelumnya, Senin 6 Maret 2026, IHSG ditutup turun 0,53 persen ke level 6.989. Pelemahan tersebut disertai net sell (jual bersih) saham oleh investor asing sebesar Rp611 miliar.
Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBRI, BMRI, BBCA, BUMI dan BRMS. Sementara itu, bursa saham global bergerak bervariasi.
Di Amerika Serikat (AS), bursa saham Wall Street bergerak naik ditopang harapan gencatan senjata antara AS dan Iran. Indeks S&P 500 naik 0,44 persen, Nasdaq Composite menguat 0,54 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,36 persen.
"Sentimen pasar terdongkrak laporan media yang menyebutkan AS, Iran, dan sejumlah mediator regional tengah membahas skema gencatan senjata," ucap Fanny. Gencatan senjata, yang disebut-sebut akan berlangsung selama 45 hari, berpotensi menjadi jalan menuju perdamaian permanen.
Namun peluang tercapainya kesepakatan sebelum tenggat waktu dinilai masih kecil. Ini karena Presiden AS, Donald Trump, kembali mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran termasuk pembangkit listrik dan jembatan.
"Trump juga menyatakan keinginannya untuk menguasai minyak Iran, meski dia menegaskan tidak akan melangkah lebih jauh dari itu," ujar Fanny. Di kawasan Asia-Pasifik, bursa saham ditutup bervariasi pada waktu yang sama.
Menurut Fanny, investor masih mencermati perkembangan terbaru dalam konflik Timur Tengah selama akhir pekan. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,55 persen, sedangkan Topix turun tipis 0,01 persen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....