IHSG Ditutup Melemah ke Level 7.026, Tekanan Jual Mendominasi
- 02 Apr 2026 16:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG ditutup melemah 2,19 persen ke level 7.026,782 setelah sempat dibuka menguat.
- Tekanan jual mendominasi dengan 530 saham turun dan hanya 177 saham naik.
- Sentimen global membuat pergerakan IHSG berbalik arah setelah sebelumnya diproyeksikan menguat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan hari ini ke level 7.026,782. Pelemahan ini setara dengan penurunan 157,655 poin atau 2,19 persen.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona merah setelah dibuka di level 7.153. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.161 sebelum akhirnya terus melemah hingga penutupan.
Tekanan jual terlihat konsisten sepanjang sesi perdagangan. IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah di 7.019 menjelang akhir sesi.
Dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten berada di zona merah. Sebanyak 530 saham melemah, 177 saham menguat, dan 113 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,708 triliun dengan volume perdagangan 25,556 miliar saham. Frekuensi transaksi juga mencapai lebih dari 1,7 juta kali transaksi.
Sebelumnya, IHSG sempat diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Hal tersebut seiring sentimen positif yang sempat mendorong pasar.
“IHSG berpotensi melanjutkan penguatan hari ini,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Kamis, 2 April 2026. Menurut dia, level support IHSG berada di kisaran 7.025–7.130 dan resistansi di 7.200–7.300.
Namun, tekanan global kembali membayangi pergerakan pasar saham domestik. Kondisi ini membuat IHSG berbalik arah dan ditutup di zona merah.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan penguatan indeks saham mencerminkan sentimen pasar. Ia menyebut lonjakan IHSG sebelumnya didorong harapan meredanya konflik global.
“Kenaikan IHSG hingga menembus level 7.184 pada perdagangan 1 April 2026 mencerminkan membaiknya sentimen global jangka pendek,” ujarnya. Ia menambahkan kondisi tersebut dipicu harapan deeskalasi konflik Timur Tengah serta reli bursa Asia dan Wall Street.
Meski demikian, ia menilai penguatan tersebut masih bersifat sementara. Ketidakpastian global dinilai masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....