Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Dekati Level 17.000

  • 13 Mar 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah turun makin dalam tehadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiau terpantau melemah 0,38 persen atau 65 poin menjadi Rp16.958 per dolar AS.

Rupiah makin tak berdaya di bawah tekanan dolar AS yang menguat dan tembus ke level 100. Sementara itu, harga minyak mentah makin bergejolak setelah Ayatollah Mojtaba Khamenei menyatakan akan tetap menutup Selat Hormuz.

"Penutupan selat tersebut menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat,13 Maret 2026. Harga minyak Brent hari ini mencapai USD101 per barel, sedangkan harga minyak WTI mencapai USD95,91 per barel.

Pelaku pasar dan analis, tambah Ibrahim, khawatir lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia. Dampaknya berupa guncangan inflasi yang akan memberikan tekanan pada perekonomian.

Jika inflasi meningkat, the Fed kemungkinan akan mempertimbangkan kembali pemangkasan suku bunga. Biaya pinjaman yang ebih tinggidapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar AS.

Di sisi lain, pelaku pasar juga memantau data inflasi Amerika Serikat (AS) pekan ini. Indeks Harga Konsumen bulan Februari yang dirilis Rabu kemarin menunjukkan inflasi yang stabil. Namun, angka tersebut tidak mencerminkan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipicu serangan AS-Israel ke Iran.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi untuk bulan Januari akan dirilis akhir pekan ini. Pelaku pasar berharap rilis data tersebut memberikan petunjuk bagi arah kebijakan suku bunga the Fed.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menyoroti beban pembayaran bunga utang yang membuat ruang gerak pemerintah terbatas untuk mempercepat belanja. Realisasi pembayaran bunga utang telah menembus angka Rp99,8 triliun pada bulan Februari 2026.

Jumlah ini setara 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun. "Risiko membengkaknya beban bunga utang semakin besar, menyusul kebijakan tukar guling utang antara Bank Indonesia dengan pemerintah," ujar Ibrahim.

Sementara itu, tensi geopolitik yang makin pasa berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara alias SBN. Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, tingkat yield SBN tenor 10 tahun bertengger di level 6,52 persen.

Sedangkan yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun berada di posisi 4,09 persen. "Kendati demikian, pemerintah optimis dapat mengelola utang dengan sangat hati-hati, untuk memastikan risiko tetap terjaga," kata Ibrahim, menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita