Rupiah Masih Loyo Akibat Harga Minyak yang Bergejolak

  • 12 Mar 2026 19:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS sampai penutupan perdagangan hari ini . Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,04 persen atau 7 poin menjadi Rp16.893 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak yang kembali naik tajam hari ini. "Harga minyak sempat melampaui level USD100 per barel," ujarnya, Kamis, 12 Maret 2026.

Harga minyak naik lagi setelah tersiar kabar dua kapal tanker minyak internasional terhantam rudal si perairan Irak. Sementara itu, Oman dikabarkan mengevakuasi terminal utama untuk ekspor minyaknya dan Iran masih memblokir Selat Hormuz.

"Harga minyak yang tinggi membuat pasar waspada terhadap peningkatan inflasi jangka panjang. Selain itu, memicu kekhawatiran terhadap kebijakan bank sentral yang lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang," ucap Ibrahim.

Sinyal beragam terkait konflik AS- Iran juga memicu fluktuasi harga di pasar logam minggu ini. Presiden Trump mengklaim perang dengan Iran hampir berakhir, tetapi Iran menolak pernyataan itu dan menegaskan akan melanjutkan perang.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran akan dampaknya pada inflasi global. Terutama di AS, kenaikan inflasi akan mempengaruhi kebijakan suku bunga the Fed.

Pelaku pasar, tambah Ibrahim, pekan ini akan mencermati data a indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Januari 2026. Data ini akan dirilis hari Jumat dan akan menjadi petunjuk mengenai laju inflasi di AS.

"Data tersebut merupakan tolok ukur inflasi pilihan Bank sentral AS, the Fed. Kemungkinan juga akan menjadi faktor ekspektasi inflasi jangka panjang," ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati kinerja APBN bulan Februari 2026 yang cukup positif. Baik dari sisi penerimaan maupun belanja negara.

Penerimaan pajak tumbuh di atas 30 persen, sedangkan penyerapan belanja tumbuh 41,9 persen. "Meski demikian, kalau melihat postur realisasi anggaran secara lengkap, APBN hingga Februari 2026 masih gali lubang tutup lubang," ucap Ibrahim.

Hal itu, menurutnya, tampak dari realisasi keseimbangan primer yang mencatatkan defisit Rp35,9 triliun. Sementara defisit anggaran bulan Februari sebesar Rp135,7 triliun.

Rekomendasi Berita