Februari 2026, Defisit APBN Naik Tajam Jadi Rp135,7 Triliun

  • 11 Mar 2026 17:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai akhir bulan Februari 2026 mengalami defisit sebesar Rp135,7 triliun. Defisitnya meningkat signifikan dibandingkan posisi defisit pada Januari 2026 yang sebesar Rp54,6 triliun.

"Defisit bulan Februari 2026, sekitar 0,53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisitnya masih berada dalam koridor desain APBN 2026," kata Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan pers APBN Kita di Jakarta , Rabu, 11 Maret 2026.

"Jadi kalau ada yang bilang tahun lalu surplus, kenapa tahun ini defisit? ya memang disain APBN kita defisit. Sekarang kita paksakan belanja yang lebih merata sepanjang tahun, sehingga dampaknya pada perekonomian akan lebih terasa," ujar Menkeu, menjelaskan.

Hingga Februari 2026, belanja negara sudah mencapai Rp493, 8 triliun, terealisasi 12,8 persen dari pagu. Sedangkan pertumbuhannya mencapai 41,9 persen secara tahunan.

"Belanja diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah. Selain itu untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi sejak awal tahun," ujar Menkeu.

Sedangkan dari sisi pendapatan negara, hingga Februari 2026 sudah terealisasi sebesar Rp358 triliun atau 11,4 persen dari target. Pertumbuhannya mencapai 12,8 persen secara tahunan.

"Kinerjanya terutama didorong oleh penerimaan perpajakan yang tetap solid," ucap Menkeu. Penerimaan perpajakan hingga Februari 2026 tercatat sebesar Rp290 triliun, tumbuh 20,5 persen dibandingkan tahun lalu.

Dari jumlah itu, penerimaan pajak sebesar Rp245,1 triliun. "Secara keseluruhan penerimaan pajak tumbuh kuat sebesar 30,4 persen," ujar Menkeu.

Sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp44,9 triliun atau terealisasi sebesar 13,4 persen. Namun penerimaan kepabeanan dan cukai secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 14,7 persen.

"Kontraksi dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas dan produksi industri. Tapi informasi terakhir, cukai sudah tumbuh lagi secara tahunan sebesar 7 persen," kata Menkeu lagi.

Dengan perkembangan tersebut, Menkeu Purbaya menilai kinerja fiskal tetap kuat dan terjaga dan defisit tetap terkendali. "Ini menunjukkan APBN berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi, sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi," ucap Menkeu Purbaya menutup keterangannya.

Rekomendasi Berita