Ekonom Sebut Perang Timur Tengah, Picu Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
- 09 Mar 2026 22:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta- Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah disebabkan tekanan global dan faktor domestik. Ia menjelaskan faktor global konflik di Timur Tengah imbas perang Iran dengan Amerika Serikat bersama Israel.
“Konflik di Timur Tengah yang makin dalam mendorong harga minyak menembus USD 100 per barel, sementara dolar AS menguat luas karena dianggap paling aman pada saat ketidakpastian meningkat,”kata Josua dalam keterangannya kepada RRI.CO.ID, Senin, 9 Maret 2026.
Faktor lainnya adalah peluang penurunan suku Bungan bank sentral Amerika Serikat sehingga daya tarik dolar Amerika tetap tinggi. Lebih lanjut ia mengatakan, pelemahan mata uang di Asia akibat kenaikan harga minyak, penguatan dolar Amerika dan meningkatnya kehati-hatian pasar.
Adapun faktor domestik yakni keputusan lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings telah menurunkan prospek utang Indonesia jadi negatif. Selanjutnya arus keluar dana dari pasar surat utang.
“Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia masih fokus menjaga kestabilan rupiah sehingga ruang untuk melonggarkan kebijakan juga menjadi sempit. Karena itu, angka 17.000 per dolar AS sekarang menjadi ambang yang sangat diperhatikan pasar,”terangnya.
Josua mengingatkan jika rupiah melemah menjadi Rp 17.000 per dolar Amerika maka masyarakat akan merasakan dampak tekanan pada biaya hidup. Barang yang mengandung bahan baku, komponen, atau ketergantungan impor akan menjadi lebih mahal, seperti elektronik, obat, alat kesehatan, suku cadang kendaraan, dan berbagai barang konsumsi tertentu.
Selanjutnya jika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan harga minyak yang tinggi, maka biaya angkut dan logistik juga cenderung naik. Imbasnya harga pangan dan kebutuhan harian dapat ikut terdorong.
“Rumah tangga yang memiliki kebutuhan dalam dolar AS, seperti biaya pendidikan luar negeri. Selanjutnya perjalamnan, atau kewajiban pinjaman dalam mata uang asing, akan merasakan dampak paling langsung,”kata Josua.
Imbas lain dari pelemahan nilai tukar rupiah akan dirasakan oleh pelaku usaha terutama UMKM. Biaya produksi mengalami kenaikan, dan penekanan laba.
“Pada akhirnya penahanan ekspansi usaha, perekrutan tenaga kerja, serta kenaikan upah. Selain itu, jika tekanan rupiah bertahan lama, Bank Indonesia kemungkinan akan tetap berhati-hati menurunkan suku bunga,”katanya menerangkan.
“Sehingga biaya kredit juga tidak cepat ringan. Jadi, bagi masyarakat, rupiah di 17.000 bukan hanya soal angka di pasar keuangan. Tetapi berpotensi menjadi tekanan nyata pada daya beli bila berlangsung cukup lama,”tegasnya.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menembus kisaran Rp 17.000 pada perdagangan hari ini. Kemudian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok empat persen di tengah lonjakan harga minyak dunia yang melampaui 100 dolar AS per barel.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan ekonom bahwa ekonomi Indonesia akan sama dengan krisis 1998. Ia memastikan pondasi ekonomi Indonesia masih kuat.
“Jangankan krisis, resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi, itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan,”kata Menteri Purbaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....