Faktor-faktor Penyebab Inflasi di Atas Tiga Persen

  • 28 Jan 2026 11:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ahli Ekonomi Josua Pardede memprediksi inflasi sepanjang kuartal pertama 2026 berada di atas 3 persen. Ia mengatakan bahwa pada Januari 2025 (0,76 persen), Februari 2025 (0,09 persen), dan Maret 2025 (1,03 persen). 

Ia menjelaskan, inflasi pada kuartal pertama tahun ini berpotensi lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Karena pada saat itu ada program stimulus ekonomi berupa diskon tarif listrik pada Januari–Februari. 

"Karena efek pembanding yang rendah," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Rabu, 28 Januari 2026. Menurutnya, ada tiga faktor yang menopang pertumbuhan inflasi pada tahun ini. 

Pertama adalah pangan yang dipengaruhi cuaca ekstrem, banjir, dan hambatan distribusi yang secara cepat mengerek naik harga pangan segar. 

Pendorong kedua adalah nilai tukar dan harga komoditas global. Apabila ketidakpastian global tetap terjadi, ia memperkirakan harga emas akan tetap tinggi. 

Ia juga menekankan pentingnya memantau pergerakan harga energi. Meski dampak terhadap kenaikannya diperkirakan terbatas dan sementara. 

Faktor ketiga adalah kebijakan dalam negeri. Ia mengatakan kelonggaran belanja pemerintah dan kebijakan suku bunga yang mendukung pertumbuhan dapat memperkuat permintaan. 

"Sehingga inflasi lebih mudah terdorong bila pasokan tidak siap," kata dia. Ia memprediksikan inflasi akan melandai di level 2,72 persen pada akhir tahun. 

Sementara secara tahunan, ia memperkirakan inflasi pada 2026 berada di atas 2,5 persen. Namun demikian, hal ini tetap berpeluang bertahan di bawah 3 persen dan turun bertahap setelah tekanan musiman mereda. 

Untuk mengendalikan inflasi, ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya menahan permintaan. Tetapi memperkuat pasokan dan kelancaran distribusi pangan. 

Misalnya dengan memastikan stok dan penyaluran antarwilayah berjalan cepat saat terjadi cuaca ekstrim. Menekan biaya logistik saat bencana, memperkuat operasi stabilisasi harga di daerah mengalami lonjakan inflasi. 

Hingga memperbaiki pola pengadaan pangan program pemerintah. Tujuannya agar mencegah kelangkaan pasokan pangan di pasar.

Ia pun menekankan kewaspadaan gangguan cuaca dan gangguan distribusi pada saat rupiah melemah. Hingga menciptakan tekanan harga dan membuat inflasi bergejolak terlepas dari permintaan yang kuat.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan peringatan keras terkait tren inflasi nasional yang terus merangkak naik. Ia menyebut angka inflasi saat ini mulai mendekati ambang psikologis 3 persen. 

"Inflasi di atas 3 persen sudah menjadi sinyal peringatan. Kenaikan yang berlebihan akan langsung memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Senin, 26 Januari 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....