Australia-Indonesia Perkuat Riset Material Berkelanjutan dan Manufaktur Maju
- 06 Okt 2026 01:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Peneliti, akademisi, dan pelaku industri Australia-Indonesia berkumpul di Jakarta dalam program kolaborasi riset. Kegiatan Australia-Indonesia Circular Materials & Advanced Manufacturing Engagement Program berlangsung pada 24–25 September 2026.
Forum ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan penjajakan kolaborasi riset material berkelanjutan serta teknologi manufaktur maju. Program yang didukung Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Pemerintah Australia ini melibatkan University of Southern Queensland (UniSQ), Centre for Future Materials (CFM), dan Jiva Catalyst Foundation.
"Sebagai negara dengan populasi besar, kita memproduksi banyak limbah plastik sekali pakai yang memicu problematika lingkungan. Melalui forum ini, kita dapat mengasimilasi hasil penelitian dari Australia ke Indonesia agar material daur ulang tidak hanya dimanfaatkan kembali, tetapi juga memiliki performa dan nilai guna yang tinggi untuk kebutuhan industri," ujar Robiatul Adawiyah, mahasiswa PhD Materials Engineering UniSQ.
Robiatul Adawiyah memaparkan penelitian pemanfaatan limbah recycled thermoplastics yang dikombinasikan dengan continuous glass fibre. Inovasi tersebut menghasilkan material komposit yang dapat digunakan kembali sebagai filamen untuk teknologi pencetakan tiga dimensi atau 3D printing.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi networking dan pemaparan riset pada 24 September di Le Méridien Jakarta. Sebanyak 50 peserta, termasuk akademisi Universitas Pembangunan Jaya Bintaro, perwakilan Kementerian Kehutanan, dan konsultan Fergi Associates.co, mengikuti diskusi mengenai pengolahan limbah plastik.
Dr. Sachini Wickramasinghe, Project Lead proyek Building Climate-Resilient Communities Using 3D-Printed Recycled Plastics di CFM UniSQ, menjelaskan fokus penelitiannya. Riset tersebut mengembangkan material komposit berpenguat serat dari limbah plastik untuk mendukung pembangunan infrastruktur sipil yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
"Hari ini kita berbicara lebih dari sekadar CFM; kita membahas tantangan global dan kolaborasi yang dapat dibangun untuk mengatasinya. Acara ini menjadi platform penting untuk saling terhubung, bertukar ide, dan mengeksplorasi peluang kerja sama di masa depan," kata Prof. Allan Manalo, Director of CFM UniSQ.
Prof. Allan Manalo menegaskan pentingnya sinergi lintas negara dalam menghadapi persoalan lingkungan global. Menurutnya, pertukaran gagasan dan penjajakan peluang kerja sama menjadi langkah penting untuk mendorong pengembangan material berkelanjutan.
Pada hari kedua, peserta mengunjungi fasilitas pengelolaan limbah PT Jangjo Teknologi Indonesia di Cengkareng, Jakarta Barat. Kunjungan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai penerapan teknologi pengelolaan limbah sekaligus membuka diskusi tentang tantangan teknis industri.
Program ini mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha untuk mengidentifikasi peluang pengembangan riset material berkelanjutan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjembatani kebutuhan industri dengan inovasi yang dikembangkan melalui penelitian.
Meski masih berada pada tahap awal pertukaran gagasan dan penjajakan, kegiatan ini membuka peluang penelitian bersama pada masa mendatang. Pengembangan circular materials diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan kelestarian lingkungan di Australia serta Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....