Ekspor Mainan Indonesia Naik Jadi USD351,8 Juta Semester I 2026

  • 05 Okt 2026 11:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ekspor mainan Indonesia mencapai USD 351,8 juta pada Januari-Juni 2026, naik 18,2% dibandingkan periode sama tahun 2025 yang hanya USD 297,7 juta.
  • Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyatakan pencapaian ini membuka ruang Indonesia untuk meningkatkan penetrasi ke pasar global.
  • Industri mainan Indonesia telah mencatat surplus net ekspor secara konsisten dalam lima tahun terakhir, menunjukkan daya saing yang berkelanjutan di pasar internasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ekspor industri mainan Indonesia meningkat pada Januari-Juni 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor naik dari USD297,7 juta menjadi USD351,8 juta.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan capaian tersebut membuka ruang Indonesia meningkatkan penetrasi ke pasar global. Industri mainan Indonesia juga mencatat surplus net ekspor dalam lima tahun terakhir.

“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko. Dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusi di pasar global,” ujar Reni dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.

Pada 2025, nilai ekspor industri mainan meningkat 8,2 persen dibandingkan 2024 menjadi sekitar USD664,6 juta. Dari sisi perdagangan, industri mainan Indonesia menunjukkan prospek yang positif.

Reni menekankan perlunya memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing. Langkah tersebut ditujukan agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional.

“Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap. Dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global,” ujar Reni.

Menurut Reni, industri mainan memiliki potensi sebagai sektor padat karya sekaligus penghasil produk bernilai tambah. Industri tersebut juga menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar.

“Industri mainan memiliki fondasi produksi yang dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Secara nasional, industri mainan telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar,” kata Reni.

Berdasarkan data BPS 2024 dan SIINas 2025, terdapat 256 unit usaha yang bergerak di sektor industri mainan. Sektor tersebut menyerap 15.663 tenaga kerja dan memiliki 10 sentra IKM mainan yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Jawa Tengah memiliki empat sentra IKM mainan, sedangkan Jawa Timur memiliki satu sentra. Adapun Jawa Barat memiliki lima sentra IKM mainan.

Salah satu peluang yang perlu dioptimalkan segmen pasar produk pendidikan yang membuka peluang bagi produk media pembelajaran maupun produk interaktif lainnya. Reni menyebut peluang tersebut dapat dikembangkan melalui produk yang mendukung proses pembelajaran anak.

“Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk. Seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game,” ucap Reni.

Reni juga menjelaskan fungsi mainan tidak hanya berkaitan dengan hiburan. Mainan juga mendukung pengembangan kreativitas, kemampuan motorik, imajinasi, hingga kemampuan memecahkan masalah pada anak.

Kementerian Perindustrian turut memperkuat penggunaan produk dalam negeri melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk. Dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” ujar Reni.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....