Produsen Lada Dunia Pacu Transformasi Menuju Industri Hilir
- 01 Okt 2026 01:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Negara produsen rempah dunia memacu transformasi industri hilir pengolahan lada untuk melepaskan ketergantungan pasar pada ekspor mentah.
- Pertemuan internasional di Jakarta menekankan pentingnya penguatan rantai nilai olahan rempah bermutu tinggi demi memenuhi standar global.
- Pemerintah bersama organisasi internasional mendorong diversifikasi produk turunan rempah guna meningkatkan kemakmuran dan daya saing petani.
RRI.CO.ID, Jakarta - Negara produsen rempah dunia kini memacu transformasi industri hilir pengolahan komoditas lada secara masif. Upaya strategis ini dilakukan untuk melepaskan ketergantungan pasar pada ekspor bahan mentah berharga rendah.
Pembahasan hilirisasi rempah tersebut mengemuka di Hotel Borobudur Jakarta pada hari Rabu, 30 September 2026. Pertemuan internasional ini menekankan pentingnya pengembangan rantai nilai untuk produk olahan rempah bermutu tinggi.
Executive Director International Pepper Community (IPC), Marina Novira Anggraini, memaparkan dinamika perdagangan lada global. Negara produsen harus menyelaraskan metode pemrosesan demi memenuhi regulasi higienitas global yang semakin ketat.
"Tentu saja, kondisi di setiap negara produsen tidaklah sama. Sebagian menghadapi tekanan iklim dan produktivitas, sementara yang lain menghadapi kenaikan biaya, keterbatasan tenaga kerja, perubahan persyaratan pasar, dan kebutuhan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar dari hasil produksi mereka. Dalam banyak kasus, berbagai tekanan tersebut saling tumpang tindih. Hal yang penting bagi kita adalah bahwa banyak dari permasalahan ini tidak lagi terbatas di dalam batas wilayah nasional. Perubahan standar atau persyaratan pasar dapat memengaruhi produsen dan eksportir di tempat lain. Pergeseran permintaan dapat memengaruhi bagaimana lada diproduksi, diolah, dan diperdagangkan," kata Marina.
Potensi pasar produk turunan rempah tercatat membuka peluang komersial yang bernilai miliaran dolar Amerika. Pertumbuhan permintaan tersebut menuntut percepatan transisi dari ekspor mentah menuju industri hilir bernilai tinggi.
Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri, Ditya Agung Nurdianto, turut menggarisbawahi urgensi hilirisasi rempah. Program Serasa Rempah Indonesia turut diluncurkan guna mempromosikan produk olahan modern ke pasar global.
"Pertanyaan di hadapan kita bukan sekadar bagaimana memproduksi dan mengekspor lebih banyak lada, melainkan bagaimana menciptakan nilai tambah yang lebih besar dari komoditas ini. Hal tersebut menuntut kita untuk naik lebih tinggi pada rantai nilai melalui penguatan pengolahan dan inovasi, pengembangan produk bernilai tambah, penguatan merek dan indikasi geografis, serta pemastian mutu, keamanan pangan, keberlanjutan, dan ketertelusuran," kata Ditya.
"Hal ini juga berarti menghubungkan lada dengan peluang yang lebih luas pada sektor makanan dan minuman, produk kesehatan dan kecantikan, kosmetik, serta penggunaan inovatif lainnya. Sasaran kita bukan hanya melestarikan reputasi historis Indonesia sebagai lumbung rempah, melainkan mentransformasikan warisan tersebut menjadi produk modern, merek yang lebih kuat, peluang pasar baru, dan peningkatan kemakmuran bagi para produsen," katanya.
Pemerintah mengawal peta jalan hilirisasi rempah nasional untuk memperkuat struktur ekspor komoditas olahan unggulan. Kerentanan agrikultur tersebut memerlukan solusi terpadu melalui riset varietas unggul serta pengolahan hasil panen.
Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Kementerian Perdagangan, Dina Kurniasari, turut menyampaikan pandangannya mengenai tantangan perdagangan. Negara berkembang memerlukan ruang kebijakan perdagangan yang fleksibel guna memperkuat industri pengolahan produk pertanian.
"Kedua, volatilitas harga global memengaruhi pendapatan petani. Ketiga, alih fungsi lahan budidaya lada ke komoditas lain. Dan keempat, penurunan produktivitas serta peningkatan tekanan hama dan penyakit tanaman. WTO menyediakan kerangka kerja yang lebih luas bagi perdagangan pertanian internasional, sementara IPC dapat menangani isu-isu spesifik lada seperti produktivitas, mutu, keberlanjutan, dan volatilitas pasar. Koordinasi yang lebih kuat di antara negara-negara produsen lada dapat berkontribusi mewujudkan industri lada global yang lebih berdaya saing, tangguh, dan berkelanjutan," kata Dina.
Perlindungan multilateral di WTO membuka kesempatan bagi hilirisasi domestik untuk berkembang tanpa hambatan sepihak. Negara produsen nonanggota seperti Kamboja dan Ekuador turut berdiskusi mengenai respons terhadap perubahan pasar.
Penyelarasan kapasitas produksi antarwilayah menjadi strategi penting dalam memperkuat penetrasi produk turunan rempah dunia. Perusahaan swasta seperti PT Haniori dan Billiton aktif membagikan pengalaman seputar inovasi produk konsumen.
Pengembangan ekstrak serta formula wewangian membuktikan bahwa pemanfaatan komoditas rempah kini kian berkembang dinamis. Standar pasar internasional kini menuntut peningkatan kualitas olahan rempah yang melampaui perdagangan komoditas biji.
Transformasi industri hilir yang berkelanjutan diyakini mampu mengangkat derajat kehidupan jutaan petani di pedesaan. Komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan menjadi penentu keberhasilan masa depan industri lada internasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....