Komunitas Lada Perkuat Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Iklim

  • 30 Sep 2026 23:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komunitas internasional memperkuat kesejahteraan para petani kecil lada di berbagai negara berkembang melalui peningkatan konektivitas pasar global.
  • Negara produsen rempah dunia memprioritaskan ketahanan iklim guna menjaga stabilitas produktivitas perkebunan lada dari ancaman cuaca ekstrem.
  • Indonesia memperkokoh kemitraan strategis multilateral menjelang Keketuaan International Pepper Community pada tahun 2026 mendatang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Komunitas perdagangan internasional berkomitmen memperkuat kesejahteraan para petani kecil lada di berbagai negara berkembang. Negara produsen rempah dunia kini memprioritaskan ketahanan iklim guna menjaga stabilitas produktivitas perkebunan lada global.

Agenda keberpihakan petani rempah tersebut dibahas di Hotel Borobudur Jakarta pada hari Rabu, 30 September 2026. Pertemuan internasional ini menekankan penerapan praktik agrikultur hijau yang ramah lingkungan secara berkelanjutan dan terukur.

Direktur Perdagangan Internasional Kementerian Luar Negeri Ditya Agung Nurdianto menegaskan urgensi perlindungan bagi petani rempah swadaya. Keuntungan rantai niaga komoditas selama ini sering kali belum dinikmati secara adil oleh masyarakat pedesaan.

"Para petani harus tetap berada di pusat transformasi ini. Perdagangan internasional yang lebih kuat pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi produktivitas yang lebih baik, akses yang lebih luas terhadap teknologi dan pengetahuan, koneksi pasar yang lebih kuat, serta penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi komunitas petani lada. Bersama-sama kita dapat membangun sektor lada global yang lebih berdaya saing, berkelanjutan, dan makmur. Dari warisan rempah Indonesia yang berusia berabad-abad hingga inovasi dan pasar global saat ini, kita harus membangun sektor lada yang lebih kompetitif, berkelanjutan, inklusif, dan tangguh. Indonesia siap bekerja sama erat dengan negara anggota IPC dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah kekuatan lada menjadi kemakmuran yang lebih besar serta peluang yang lebih luas bagi semua pihak," kata Ditya.

Executive Director International Pepper Community (IPC) Marina Novira Anggraini menyatakan pentingnya pertukaran pengetahuan antarnegara anggota. Akses terhadap informasi harga pasar membantu petani menghindari kerugian akibat ulah spekulan komoditas mentah.

"Pengetahuan yang dikembangkan di suatu negara sering kali dapat bermanfaat bagi negara lain. Meskipun realitas kita berbeda, kita memiliki alasan kuat untuk tetap terhubung, berbagi pengetahuan, dan belajar satu sama lain. Di situlah IPC memiliki peran penting untuk dijalankan. Kami mempertemukan berbagai negara untuk berbagi informasi, bertukar pengalaman, dan memelihara dialog mengenai isu-isu krusial di seluruh industri lada. Dengan demikian, apa yang ada di tingkat nasional dapat berkontribusi menciptakan nilai bersama secara internasional melalui intelijen pasar yang lebih baik, pengetahuan teknis, kesadaran regulasi, dan dialog antarpemerintah," ujar Marina.

Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Kementerian Perdagangan Dina Kurniasari menjelaskan strategi pengembangan komoditas rempah. Akses pasar global yang terbuka memberikan kepastian penyerapan hasil produksi perkebunan rakyat secara berkelanjutan.

"Menjawab berbagai tantangan ini membutuhkan fokus yang lebih kuat pada inovasi, produktivitas, keberlanjutan, serta kolaborasi. Hal ini mencakup riset varietas berdaya hasil tinggi dan tahan penyakit, peningkatan kapasitas bagi petani kecil, sertifikasi yang lebih baik, ketertelusuran, dan pengembangan produk lada bernilai lebih tinggi. Komoditas ini menghubungkan masyarakat, menopang mata pencaharian, menciptakan berbagai peluang ekonomi, dan menjadi bagian dari warisan budaya kita bersama. Sebagai penutup, dari ladang perkebunan kita menuju dunia, mari jadikan lada lebih dari sekadar rempah," ucap Dina.

Ditya menyoroti berbagai hambatan operasional yang dihadapi oleh sektor perkebunan lada nasional saat ini. Anomali cuaca yang sulit diprediksi kerap memicu kegagalan panen raya di berbagai sentra budidaya komoditas.

"Angka-angka ini menunjukkan signifikansi lada sekaligus besarnya peluang yang ada di depan kita. Pada saat yang sama, sektor lada Indonesia terus menghadapi tantangan berat dalam hal produktivitas, mutu, ketahanan iklim, teknologi produksi, dan kapasitas pascapanen. Melalui IPC, kami berharap dapat memperdalam kerja sama dalam akses dan diversifikasi pasar, intelijen pasar, peningkatan nilai tambah dan inovasi, jenama dan indikasi geografis, harmonisasi mutu, keberlanjutan dan ketertelusuran, kerja sama teknis, serta peningkatan kapasitas petani. Kita juga harus bekerja sama untuk mengatasi hambatan tarif maupun non-tarif, serta memperkuat akses menuju pasar-pasar baru dan pasar premium," kata Ditya.

Marina menekankan keterkaitan erat antara rantai pasok global dan dinamika permintaan pasar konsumen dunia. Penyebaran informasi cuaca mikro membantu para petani mengantisipasi dampak buruk perubahan iklim terhadap kebun.

"Komoditas ini diperdagangkan lintas batas dan dikonsumsi di berbagai pasar dengan persyaratan mutu serta pola permintaan yang sangat berbeda. Akibatnya, apa yang terjadi pada sisi produksi, perdagangan, maupun permintaan di satu belahan dunia kini dampaknya kian nyata dirasakan di tempat lain. Melihat ke sekeliling ruangan ini, kita sudah dapat menyaksikan keistimewaan dari komoditas lada. Komoditas ini menyatukan negara-negara produsen dan pasar konsumen, pemerintah dan kalangan industri, hingga para peneliti dan pelaku usaha bisnis," ujar Marina.

Dina menegaskan komitmen Indonesia dalam memimpin organisasi rempah internasional tersebut pada tahun 2026 mendatang. Harmonisasi standar ekologis yang adil diperlukan agar petani kecil tidak terbebani oleh regulasi proteksionis.

"Koordinasi yang lebih solid di antara sesama negara produsen dapat mewujudkan industri lada global yang lebih berdaya saing, berketahanan tinggi, dan berkelanjutan. Seiring Indonesia mengemban Keketuaan International Pepper Community pada 2026, kami berkomitmen memperkokoh kerja sama antarseluruh negara anggota serta pemangku kepentingan. Dari perspektif perdagangan internasional kami, iklim perniagaan yang dapat diprediksi, transparan, dan adil tetap menjadi hal yang sangat krusial bagi negara-negara produsen lada. Oleh sebab itu, kerja sama melalui WTO dan IPC diharapkan dapat saling melengkapi serta menguatkan satu sama lain," ucap Dina.

Kemitraan strategis dengan perusahaan swasta nasional memperkuat kepastian rantai pasok dari kebun milik rakyat. Praktik agroforestri ramah lingkungan terbukti efektif mencegah erosi lereng perkebunan saat musim hujan lebat melanda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....