Elektrifikasi Jadi Strategi KAI Tingkatkan Layanan Jabodetabek

  • 24 Sep 2026 23:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PT Kereta Api Indonesia memperluas elektrifikasi jalur untuk meningkatkan kapasitas layanan KRL hingga dua juta pelanggan per hari.
  • Pemanfaatan teknologi listrik pada moda rel nasional melintasi sejarah panjang sejak pengoperasian trem Batavia pada tahun 1899.
  • KAI Group mengoperasikan sarana modern LRT Jabodebek tanpa masinis dan Kereta Cepat Whoosh guna melayani mobilitas masyarakat luas.

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia menjadikan pengembangan elektrifikasi sebagai strategi utama peningkatan kapasitas layanan kawasan Jabodetabek. Perusahaan menyiapkan langkah strategis tersebut guna meningkatkan kapasitas angkutan massal menuju dua juta pelanggan per hari.

Pembangunan prasarana listrik aliran atas (LAA) untuk perpanjangan rute tersebut ditargetkan dapat selesai pada 2028. Jalur Bekasi saat ini baru mencapai Stasiun Cikarang dan rute selatan telah sampai ke Stasiun Bogor.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan pentingnya perluasan jalur demi menjawab kebutuhan perjalanan masyarakat perkotaan. Pengembangan sistem transportasi perkeretaapian modern tersebut bertepatan dengan momentum perayaan hari ulang tahun KAI ke-81.

“KAI terus menyiapkan pengembangan jaringan KRL melalui penambahan elektrifikasi. Ke depan, jalur KRL Bekasi akan diperpanjang dari Cikarang menuju Cikampek, sementara jalur Bogor akan diperpanjang hingga Cigombong. Pengembangan ini dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan kapasitas layanan KRL menuju dua juta pelanggan per hari,” ujar Bobby dalam keterangannya terkait rencana pengembangan jaringan di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

Pemanfaatan tenaga listrik pada transportasi rel Indonesia pertama kali dimulai melalui pengoperasian trem listrik di Batavia. Kendaraan umum massal baru tersebut resmi beroperasi melayani mobilitas masyarakat perkotaan sejak tanggal 10 April 1899.

Armada trem didatangkan dari pabrik Dyle et Bacalan Belgia serta dioperasikan Batavia Elektrische Tram Maatschappij (BETM). Peresmian berlangsung di belakang Kebun Binatang Batavia kawasan Cikini Menteng bersama fasilitas depo pembangkit listrik.

Jaringan trem listrik Batavia pada masa awal menghubungkan rute Harmoni, Tanah Abang, Pasar Senen, hingga Stasiun Batavia. Kereta listrik pertama Indonesia mulai beroperasi pada 6 April 1925 melintasi Tanjung Priok menuju Meester Cornelis.

Layanan kereta listrik rute Batavia menuju Buitenzorg atau Jakarta hingga Bogor beroperasi penuh sejak tahun 1930. KAI Group tercatat telah melayani 351.602.397 pelanggan hingga Agustus 2026 dengan kenaikan mencapai 7,09 persen.

Moda transportasi LRT Jabodebek mulai beroperasi pada 2023 dengan bentangan jalur sepanjang 44,43 kilometer. Armada tersebut mengandalkan sistem persinyalan Communication Based Train Control (CBTC) serta otomasi Grade of Automation 3 (GoA3).

Kereta Cepat Whoosh diresmikan pada 2 Oktober 2023 dan mulai beroperasi komersial pada 17 Oktober 2023. Kereta cepat rangkaian CR400AF tersebut melaju hingga kecepatan 350 km/jam sebagai pelopor di Asia Tenggara.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyoroti transformasi teknologi perkeretaapian nasional dari masa ke masa. Kehadiran sarana transportasi rel listrik tersebut menghadirkan alternatif perjalanan bagi warga Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi.

“Teknologi listrik telah menjadi bagian dari perjalanan kereta api Indonesia selama lebih dari satu abad. Perkembangannya menunjukkan bagaimana transportasi rel terus beradaptasi, dari melayani mobilitas perkotaan hingga menghadirkan layanan dengan teknologi modern. Dari trem listrik Batavia hingga KRL, LRT Jabodebek, dan Whoosh, setiap perkembangan teknologi membawa perubahan bagi masyarakat. KAI terus menjadi bagian dari perjalanan tersebut dengan menghadirkan layanan yang semakin melayani,” kata Anne saat menjelaskan sejarah perkembangan transportasi perkeretaapian di Jakarta.

KAI terus melanjutkan pengembangan perkeretaapian nasional melalui inovasi teknologi guna mendukung kebutuhan mobilitas seluruh lapisan masyarakat. Integrasi layanan moda rel berbasis listrik ini diharapkan semakin memperkuat konektivitas antarkota maupun transportasi kawasan perkotaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....