Konsumsi Bahan Bakar Armada KAI Tembus 200 Juta Liter
- 24 Sep 2026 22:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Kereta Api Indonesia mencatat kebutuhan konsumsi bahan bakar minyak melampaui 200 juta liter hingga akhir tahun.
- Kebijakan implementasi bahan bakar nabati B50 resmi bergulir ke seluruh armada kereta sejak 1 Juli 2026.
- Pertamina Patra Niaga dan KAI Daop 1 Jakarta memastikan operasional biosolar berjalan lancar tanpa kendala teknis.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat kebutuhan konsumsi bahan bakar operasional menembus 200 juta liter. Penerapan energi nabati tersebut kini menyasar seluruh armada kereta api penumpang serta angkutan logistik barang.
Kebijakan operasional bahan bakar B50 resmi bergulir secara menyeluruh sejak hari Rabu, 1 Juli 2026. Langkah strategis ini mempercepat transisi energi bersih di lingkungan moda transportasi massal milik negara.
Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Anne Purba memberikan penjelasan resmi mengenai operasional. Jaringan transportasi berbasis rel di Indonesia menjadi sarana perjalanan umum yang sangat produktif setiap hari.
"Ada beberapa kereta yang kita juga B50 di kereta-kereta barang. Jadi kalau dari dari sisi kebutuhannya ya lebih dari 200 juta liter B50 ataupun bahan bakar yang kita butuhkan sampai akhir tahun," ujar Anne Purba di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim, Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Ia menegaskan bahwa kesiapan armada terus dijaga guna mendukung tingginya pergerakan seluruh penumpang kereta. Kementerian terkait bersama operator sempat menggelar serangkaian pengujian teknis secara ketat pada sarana transportasi.
"Kalau saya lihat ya kereta yang paling siap. Dan kereta ini mengangkut 1,4 juta (penumpang-red) per hari ya, dari semua mulai dari komuter, LRT, Whoosh, dan jarak jauh itu kan hampir 1,5 juta (penumpang-red) per hari. Dan ini adalah transportasi publik yang benar-benar sangat produktif, efisien," ucap Anne.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun turut memberikan keterangan terkait proses pengujian. Hasil pengetesan lapangan membuktikan bahwa performa mesin lokomotif tetap prima memakai campuran minyak sawit.
"Sebelum B50 itu diresmikan, itu Dirjen EBTKE itu melakukan eh tryout, melakukan percobaan, melakukan pengetesan. Nah, pada saat dilakukan pengetesan, itu diambil nih segmen-segmen pengguna BBM solar. Salah satunya adalah kereta api" ujar Roberth MV Dumatubun di Wisma Tugu, kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Ia menjelaskan bahwa peralihan bahan bakar ini membawa dampak positif terhadap konsumsi solar bersubsidi. Penyalur bahan bakar menjamin pasokan energi melalui pencampuran langsung di terminal penerimaan secara terjadwal.
"Kalau sekarang B50, maka kebutuhan solarnya hanya 50 persen, sehingga konsumsi transportasi umum yang dilayani melalui KAI itu ada terjadi penambahan efisiensi solar sebesar 10 persen," kata Roberth.
Manajer Humas KAI Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Franoto Wibowo memaparkan data operasional sarana perkeretaapian. Armada lokomotif tersebut aktif melayani puluhan perjalanan kereta api jarak jauh dari Stasiun Gambir dan Senen.
"Mei itu satu lokomotif (diuji coba-red), satu kereta pembangkit. Nah, mulai Juli itu sudah 79 lokomotif dan 49 kereta pembangkit," ujar Franoto Wibowo di Stasiun Cikini, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Franoto memastikan bahwa pasokan biosolar untuk seluruh rangkaian rute lokal Sukabumi dan Cianjur berjalan aman. Pengisian bahan bakar minyak di wilayah Daop 1 dipusatkan pada Dipo Cipinang serta Dipo Kota.
"Jadi untuk kebutuhan operasional sarana itu tidak ada kendala, ya, karena sudah direncanakan secara terukur, jumlahnya juga sudah pasti, sesuai dengan perjalanan kereta api juga, ya. Jadi pemenuhan BBM dilakukan melalui koordinasi dengan unit-unit di lingkungan KAI sendiri, termasuk perencanaannya untuk memastikan bahwa ketersediaan bahan bakar ini cukup untuk kebutuhan operasional," ucap Franoto.
Manajemen sarana meningkatkan frekuensi pengawasan komponen filter bahan bakar guna mencegah timbulnya endapan residu mesin. Hingga kini tidak ada laporan gangguan mesin yang menghambat jadwal keberangkatan perjalanan armada kereta penumpang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....