Erupsi Gunung Anak Krakatau Hambat Arus Ekspor Impor melalui Bandara Soetta
- 07 Sep 2026 22:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lembaga profesional bidang logistik Supply Chain Indonesia (SCI) mencermati dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terjadap kelancaran logistik nasional melalui Bandara Soekarno-Hatta
- Gangguan penerbangan selama delapan jam, berpotensi menunda arus ekspor impor sekira USD28 juta
- Supply Chain Indonesia (SCI) merekomendasikan solusi dalam jangka pendek berupa diaktifkannya kordinasi tanggap darurat
RRI.CO.ID, Jakarta – Lembaga profesional bidang logistik Supply Chain Indonesia (SCI) mencermati dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terjadap kelancaran logistik nasional. Utamanya aktivitas logistik yang jaringannya terhubung dengan Bandara Soekarno-Hatta, pintu utama pengiriman barang bernilai tinggi dan sensitif waktu.
“Penutupan ruang udara, pembatalan atau pengalihan penerbangan dan perubahan jadwal, dapat menyebabkan penumpukan kargo. Sehingga dapat berdampak pada kegiatan produksi dan perdagangan,” kata CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi dalam keterangan tertulisnya, Senin, 7 September 2026.
Menurutnya, pada tahun 2025, nilai ekspor nonmigas melalui Bandara Soetta mencapai USD9,90 miliar dan nilai impor sebesar USD20,77 miliar. Nilai indikatif arus perdagangan bruto nya mencapai USD30,67 miliar setahun atau rata-rata sebesar USD84,03 juta per hari.
Sehingga, jika terjadi gangguan penerbangan selama delapan jam, berpotensi menunda arus ekspor impor sekira USD28 juta. Terdiri atas ekspor senilai USD9,04 juta dan impor senilai USD18,97 juta, termasuk terdampak ke 160 ton barang impor.
Jika gangguan berlangsung selama 48 jam, jelas Setijadi, nilai indikatif barang yang berpotensi tertunda meningkat menjadi sekitar USD168 juta. Terdiri atas ekspor senilai USD54,23 juta dan impor senilai USD113,83 juta, dan barang impor terdampak mencapai 960 ton.
“Perhitungan tersebut hanya mencakup perdagangan internasional melalui Soekarno–Hatta, belum termasuk pengiriman domestik. Perhitungannya bukan estimasi kerugian langsung,” ujar Setijadi.
Kerugian aktual, lanjutnya, bergantung pada pembatalan penerbangan, pengalihan kargo, karakteristik komoditas, dan waktu pemulihan operasi. Untuk itu, SCI merekomendasikan solusi dalam jangka pendek berupa diaktifkannya kordinasi tanggap darurat.
Kordinasi melibatkakan pengelola bandara, maskapai, freight forwarder, Bea dan Cukai, karantina, serta pemilik barang. Prioritasnya meliputi pemantauan sebaran abu secara real-time hingga percepatan penanganan dokumen dan pengalihan kargo melalui bandara alternatif.
“Barang mudah rusak, produk farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres perlu mendapatkan prioritas. Pengiriman domestik dapat dialihkan ke moda darat, kereta api, laut, atau jaringan multimoda,” kata Setijadi.
Di sis lain, ia juga mengingatkan pelaku usaha bidang logistik untuk menyiapkan antisipasi jangka panjang. Importir perlu menyesuaikan persediaan pengaman untuk bahan baku kritis, sedangkan eksportir perlu menyiapkan gudang dan fasilitas rantai dingin alternatif.
Pemerintah juga dinilai perlu menyusun protokol logistik kebencanaan lintas-instansi. “Sehingga gangguan penerbangan akibat erupsi gunung tidak berkembang menjadi gangguan rantai pasok dan produksi yang lebih luas,” ujar Setijadi menutup pernyataannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....