Penertiban Tambang Ilegal Dongkrak Kinerja PT Timah, Laba Naik 9 Kali Lipat

  • 12 Agt 2026 01:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penertiban tambang ilegal dan jalur penyelundupan di Bangka Belitung dinilai ikut memperbaiki pasokan dan operasional TINS.
  • Laba PT Timah melonjak lebih dari 9 kali lipat menjadi Rp2,71 triliun pada Semester I-2026 dari Rp300,07 miliar.
  • Analis menilai konsistensi penertiban dapat menjadi katalis re-rating saham TINS karena membuka peluang pertumbuhan produksi, arus kas, dan laba yang lebih terukur.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penertiban tambang ilegal dan penutupan jalur penyelundupan timah di Bangka Belitung mulai menunjukkan dampak positif terhadap kinerja PT Timah Tbk (TINS). Perbaikan tata kelola pertambangan tersebut ikut mendorong peningkatan produksi, penjualan, hingga laba perseroan pada Semester I-2026.

PT Timah membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,71 triliun. Capaian ini melonjak lebih dari sembilan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp300,07 miliar.

Pendapatan perseroan juga tumbuh signifikan 146,9 persen menjadi Rp10,42 triliun. Sementara itu, laba usaha meningkat dari Rp380,20 miliar menjadi Rp3,46 triliun, dengan margin laba usaha melebar dari 9,01 persen menjadi 33,24 persen.

Kinerja tersebut ditopang peningkatan produksi bijih timah sebesar 75 persen menjadi 12.232 ton Sn. Produksi logam timah turut naik 58 persen menjadi 10.865 metrik ton, sedangkan volume penjualan meningkat 85 persen menjadi 10.984 metrik ton.

Selain kenaikan harga jual rata-rata timah sebesar 52 persen menjadi 49.794 dolar AS per metrik ton, perbaikan operasional juga didukung penguatan pengawasan dan pengamanan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP), serta dukungan Satuan Tugas Pemerintah Pusat.

Penertiban Tambang Ilegal

Perbaikan kinerja tersebut berlangsung setelah Presiden Prabowo Subianto memerintahkan operasi besar-besaran untuk menertibkan sekitar 1.000 tambang ilegal dan menutup jalur penyelundupan timah di Bangka Belitung.

Operasi yang melibatkan TNI, Polri, dan Bea Cukai tersebut mulai dijalankan sejak September 2025. Langkah itu merupakan bagian dari upaya pemerintah mengamankan cadangan strategis nasional dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

Analis BRI Danareksa, Andhika Audrey, menilai penertiban tersebut membuat aktivitas pertambangan timah secara bertahap kembali masuk ke dalam ekosistem formal. Menurutnya, kondisi tersebut memberikan ruang bagi PT Timah untuk mengamankan pasokan bijih dari wilayah konsesinya.

Pada saat yang sama, perseroan dapat meningkatkan utilisasi fasilitas produksi. Sekaligus, memperkuat kepercayaan investor terhadap industri pengelolaan timah nasional.

"Dampaknya mulai terlihat dari kenaikan produksi, volume penjualan, serta perbaikan margin TINS. Apabila pengawasan tambang dan jalur penyelundupan dilakukan secara konsisten, pertumbuhan kinerja perseroan berpotensi lebih berkelanjutan," ujar Andhika dalam keterangannya, Selasa, 11 Agustus 2026.

Saham TINS Menguat

Sentimen positif dari perbaikan fundamental perseroan turut tercermin pada pergerakan saham TINS. Harga saham PT Timah meningkat sekitar 17,7 persen, dari Rp3.270 pada 30 Juni 2026 menjadi Rp3.850 pada 10 Agustus 2026.

Pada level tersebut, kapitalisasi pasar TINS mencapai sekitar Rp28,67 triliun. Sementara berdasarkan laba Semester I-2026 yang disetahunkan secara sederhana, saham TINS diperdagangkan pada kisaran 5,3 kali indicative price to earnings ratio (PER).

Andhika menilai konsistensi penertiban tambang ilegal dapat menjadi katalis bagi re-rating saham TINS. Pasar dinilai tidak lagi hanya melihat perseroan sebagai penerima manfaat dari kenaikan harga timah, tetapi juga dari potensi pertumbuhan produksi, arus kas, dan laba yang lebih terukur.

"Penutupan tambang ilegal dapat menjadi katalis re-rating bagi TINS. Pasar tidak lagi hanya melihat perseroan sebagai penerima manfaat kenaikan harga timah, tetapi juga sebagai perusahaan yang memiliki peluang pertumbuhan produksi, arus kas, dan laba yang lebih terukur," kata Andhika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....