Penertiban Tambang Ilegal Dinilai Jadi Katalis Pemulihan Produksi TINS

  • 10 Agt 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penertiban tambang timah ilegal di Bangka Belitung dinilai berpotensi menjadi katalis positif bagi PT Timah Tbk (TINS).
  • Berkurangnya aktivitas tambang ilegal dapat mendorong pasokan bijih timah kembali masuk ke rantai pasok resmi.
  • Prospek harga timah global dinilai positif seiring potensi kekurangan pasokan dan meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor serta AI.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penertiban tambang timah ilegal di Bangka Belitung dinilai berpotensi menjadi katalis positif bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk memperkuat produksi dan kinerja perseroan. Berkurangnya aktivitas pertambangan di luar sistem resmi dinilai dapat mendorong pasokan timah kembali masuk ke rantai pasok formal.

Pemerintah sebelumnya menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung. Presiden Prabowo Subianto juga memperkirakan aktivitas pertambangan timah di luar sistem resmi atau sektor shadow dapat mencapai sekitar 80 persen dari total produksi timah di wilayah tersebut.

Sementara itu, Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara ilegal setiap tahun. Besarnya aktivitas ilegal tersebut selama ini menjadi salah satu tantangan bagi produsen resmi, termasuk TINS.

Persaingan dengan penambang ilegal juga disebut menjadi salah satu faktor yang menekan produksi TINS. Pada semester I 2025, produksi bijih timah perseroan tercatat 6.997 ton, turun 32 persen secara tahunan.

Penertiban aktivitas ilegal berpeluang mengubah kondisi tersebut. Pasokan bijih yang sebelumnya berada di jalur informal berpotensi kembali masuk ke rantai pasok resmi, sehingga membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi, hingga volume penjualan.

Kondisi tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengamankan cadangan strategis nasional dan memperkuat tata kelola pertambangan timah.

Produksi TINS Melonjak

Momentum pemulihan produksi TINS mulai terlihat pada semester I 2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, meningkat sekitar 75 persen dibandingkan 6.997 ton Sn pada semester I 2025.

Produksi logam timah juga meningkat menjadi 10.865 metrik ton. Sementara penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, atau melonjak sekitar 85 persen dibandingkan 5.933 metrik ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan volume produksi dan penjualan tersebut turut memperkuat kinerja keuangan perseroan. Pendapatan TINS pada semester I 2026 mencapai Rp10,42 triliun, naik 147 persen dibandingkan Rp4,22 triliun pada semester I 2025.

Laba bersih bahkan melonjak sekitar 805 persen menjadi Rp2,71 triliun dari sebelumnya Rp300 miliar. Realisasi tersebut telah mencapai sekitar 169 persen dari target laba bersih TINS sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun.

Kinerja perseroan juga mendapat dukungan dari tingginya harga timah dunia. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I 2026 mencapai USD50.319 per metrik ton, meningkat 56,7 persen dibandingkan USD32.116 per metrik ton pada semester I 2025.

Prospek TINS Masih Positif

Perbaikan fundamental tersebut turut tercermin pada peningkatan kapitalisasi pasar TINS. Pada Agustus 2025, kapitalisasi pasar perseroan berada di kisaran Rp7,6 triliun. Setahun kemudian, pada Agustus 2026, kapitalisasi pasar TINS telah mencapai sekitar Rp28,75 triliun.

Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menilai prospek TINS masih positif dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja perseroan, harga timah global, serta komitmen pemerintah dalam menertibkan tambang ilegal.

Ia masih merekomendasikan Buy untuk saham TINS dengan target harga Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham. Menurutnya, prospek perseroan saat ini ditopang pemulihan produksi serta potensi normalisasi pasokan seiring penertiban aktivitas pertambangan ilegal.

Dari sisi valuasi, Hans menilai saham TINS masih menarik. Price to Earnings Ratio (PER) perseroan berada di sekitar 4,49 kali, relatif murah jika dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan dan laba bersih. Selain itu, Net Profit Margin (NPM) TINS mencapai sekitar 26 persen dan Return on Equity (ROE) sekitar 51 persen.

Dari sisi industri, prospek harga timah dunia juga dinilai masih positif. Kondisi tersebut didorong potensi kekurangan pasokan di tengah meningkatnya kebutuhan timah untuk industri semikonduktor serta pengembangan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Dengan kombinasi pemulihan produksi, peningkatan harga timah, perbaikan kinerja keuangan, serta penertiban tambang ilegal, TINS dinilai memiliki ruang untuk mempertahankan momentum pertumbuhan sepanjang 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....