Pelanggan KA Bandung Raya Mencapai 11,87 Juta Orang
- 08 Agt 2026 00:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Kereta Api Indonesia melayani 11,87 juta pelanggan kereta api lokal di kawasan Bandung Raya.
- Pertumbuhan penumpang transportasi publik mendorong penguatan infrastruktur perkeretaapian berbasis data kebutuhan wilayah.
- Pemerintah bersama pengelola transportasi terus mengkaji pengembangan jaringan perkeretaapian di luar Pulau Jawa.
RRI.CO.ID, Bandung - PT Kereta Api Indonesia (KAI) melayani 11.872.273 pelanggan Kereta Api Lokal Bandung Raya periode Januari–Juli 2026. Realisasi pencapaian tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 8,55 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kenaikan volume penumpang tersebut mencapai angka 38,13 persen jika dibandingkan periode sama tahun 2023. BUMN perkeretaapian ini juga melaporkan data pertumbuhan itu pada hari Jumat, 7 Agustus 2026.
Jumlah pengguna layanan moda kereta di kawasan Bandung Raya tercatat sebanyak 10.936.955 orang pada 2025. Sementara itu, angka pembanding mobilitas masyarakat pada periode Januari–Juli 2023 tercatat sebanyak 8.595.185 orang.
Tren tahunan mencatat volume 14.720.252 penumpang pada 2023 dan naik 9,77 persen pada 2024. Selanjutnya jumlah tersebut berlanjut naik 15,89 persen menjadi 18.727.224 penumpang pada keseluruhan tahun 2025.
Dalam kurun dua tahun, volume total pelanggan angkutan rel lokal tersebut bertambah 27,22 persen. Kebutuhan perjalanan bulanan masyarakat konsisten berada pada kisaran 1,45 juta hingga 1,84 juta pelanggan.
Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Anne Purba memberikan penjelasan terkait data tersebut. Catatan perjalanan pada Maret 2026 mencapai 1,84 juta orang dan Juli 2026 sebanyak 1,77 juta orang.
“Bandung Raya memberi gambaran yang cukup jelas. Ketika aktivitas masyarakat meningkat dan kebutuhan perjalanan sudah terbentuk, kapasitas transportasi publik harus dipersiapkan untuk mengikutinya. Data pelanggan menjadi salah satu dasar penting untuk menentukan apa yang perlu diperkuat dan kapan penguatan itu dibutuhkan,” ujar Anne.
Anne memaparkan opsi pengembangan prasarana seperti kapasitas jalur, sistem persinyalan, fasilitas stasiun, hingga elektrifikasi. Pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan jaringan rel luar Jawa di Sumatra, Kalimantan, serta Sulawesi.
“Elektrifikasi dan peningkatan kapasitas merupakan pilihan yang perlu dikaji berdasarkan kebutuhan setiap lintas. Kita perlu melihat jumlah pelanggan, pola perjalanan, frekuensi yang dibutuhkan, kesiapan pasokan energi, kondisi prasarana, biaya investasi, serta manfaat yang diterima masyarakat. Infrastruktur harus hadir dengan perencanaan yang matang,” kata Anne.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penumpang kereta api Sumatra dan Sulawesi sebanyak 3,99 juta orang. Angka keterangkutan moda rel luar Jawa pada periode Januari–Juni 2026 tersebut tumbuh sebesar 9,22 persen.
Penumpang laut Belawan mencapai 97,9 ribu, Makassar 271 ribu, dan Balikpapan 267,2 ribu orang. Laju pertumbuhan masing-masing pelabuhan tersebut tercatat sebesar 5,50 persen, 8,49 persen, serta 12,79 persen.
Ia menyampaikan informasi mengenai angkutan udara Kualanamu sebanyak 1,10 juta dan Hasanuddin 1,37 juta. Pemerintah Provinsi Papua bersama KAI juga menyiapkan survei awal potensi rute pada April 2026.
“Kebutuhan Sumatra tentu berbeda dengan Kalimantan, Sulawesi, maupun Papua. Ada wilayah dengan potensi penumpang yang kuat, ada wilayah yang kebutuhan logistiknya lebih besar, dan ada yang berpotensi melayani keduanya. Karena itu, prioritas harus ditentukan dari data dan kajian agar manfaatnya benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Anne.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menegaskan kehati-hatian penentuan prioritas investasi transportasi. Keputusan pembangunan sarana rel jangka panjang wajib mempertimbangkan keberlanjutan perkembangan kawasan serta kelayakan ekonomi.
“Yang paling penting adalah manfaatnya. Ketika masyarakat memang membutuhkan, kawasan berkembang, potensi ekonomi tersedia, dan kajiannya menunjukkan kelayakan, penguatan layanan bisa disiapkan dengan lebih tepat. Bandung Raya menunjukkan bagaimana data perjalanan dapat membantu kita membaca kebutuhan tersebut,” kata Wisnu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....