Industri Nilai Transisi Energi Dapat Tingkatkan Daya Saing Bisnis

  • 05 Agt 2026 11:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PT Lautan Luas Tbk. yang telah beroperasi selama 75 tahun melihat transisi energi sebagai peluang strategis untuk mengembangkan bisnis perusahaan.
  • Kolaborasi antara PT Lautan Luas Tbk. dan Greenvolt Power Indonesia dirancang khusus untuk mendorong adopsi energi bersih di kalangan industri nasional.
  • Strategi bisnis yang menggabungkan transisi energi menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Lautan Luas Tbk. (LTLS) yang telah berdiri 75 tahun menilai bahwa transisi energi bisa jadi strategi bisnis menguntungkan. Kolaborasi dengan Greenvolt Power Indonesia dilakukan untuk mendukung penerapan energi bersih di sektor industri.

Selama lima tahun terakhir, LTLS terus menjalankan berbagai program ESG (Environmental, Social, and Governance). Program ini merupakan bentuk kontribusi nyata mendukung upaya dekarbonisasi dan pembangunan berkelanjutan di sektor bisnis dan lingkungan.

“ESG itu merupakan cara Lautan Luas untuk memberikan kontribusi kembali ke Indonesia. Ini menjadi salah satu upaya untuk turut berkontribusi menjalankan program-program yang nantinya bisa membantu dekarbonisasi,” kata ESG Manager PT Lautan Luas Tbk., Eurike Hadijaya, dalam kegiatan penandatanganan Head of Agreement (HoA) di PT Lautan Luas Tbk., Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.

Eurike mengatakan pengelolaan ESG yang konsisten itu menghasilkan skor rating baik sehingga membuka peluang mengikuti tender perusahaan multinasional. Ia mengatakan sejumlah perusahaan multinasional mulai mensyaratkan skor ESG minimum dalam proses tender.

"ESG rating yang skornya baik membuat kami memiliki peluang untuk join di tender-tender customer multinational company. Di saat orang-orang mungkin masih belum aware, belum mempersiapkan, tapi ternyata ini membuahkan hasil yang baik,” katanya.

Sementara itu, Greenvolt Power Indonesia menilai transisi energi perlu dipandang sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan. “Bagaimana kita bisa memilih energi untuk menjadi 'competitiveness edge' di suatu perusahaan sehingga menjadi suatu yang 'long-term'," kata Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly, dalam kesempatan yang sama.

"Kita mengambil contoh Lautan Luas yang ternyata memiliki produk-produk di market selama 75 tahun berdiri,” ujarnya. Energi dipandang mampu menjadi keunggulan kompetitif perusahaan apabila dikelola secara terintegrasi dengan rencana bisnis jangka panjang.

Selain itu, Bobby juga menilai banyak industri masih bergantung pada pasokan listrik dari PLN. Sumber energi tunggal itu dinilai masih menyisakan jejak karbon besar sehingga menghambat percepatan transisi energi bersih nasional.

Menurutnya solusi paling mudah dijangkau adalah pemanfaatan panel surya di atap pabrik atau fasilitas milik industri. Greenvolt berperan sebagai ‘enabler’ dengan berinvestasi langsung tanpa membebani modal perusahaan mitra.

"Greenvolt ini menjadi enabler, pelaku industri tidak harus berinvestasi langsung, tapi melalui 'partnership' oleh kami. Jadi pelaku industri tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk tetap menikmati energi bersih dari aset yang mereka miliki," ucapnya.

Greenvolt menargetkan investasi sebesar 300 juta dolar AS untuk membangun kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 350 megawatt di Indonesia. Selain LTLS, perusahaan juga menjajaki kerja sama dengan industri logam, semen, serta makanan dan minuman. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....