Laporan Brand Footprint 2026: Persaingan Merek FMCG di Indonesia Kian Ketat
- 16 Jul 2026 00:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Laporan Brand Footprint 2026 dari Worldpanel by Numerator menunjukkan persaingan pasar FMCG di Indonesia semakin ketat.
- Hanya 44 persen merek FMCG yang mencatat pertumbuhan pada 2025, turun dari 62 persen pada tahun sebelumnya.
- Indomie kembali menjadi merek FMCG yang paling banyak dipilih konsumen Indonesia, disusul So Klin, Mie Sedaap, Roma, Indofood, Royco, Kapal Api, NABATI, Masako, dan Frisian Flag.
RRI.CO.ID, Jakarta - Persaingan merek produk kebutuhan sehari-hari atau Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) di Indonesia semakin ketat. Hal itu terungkap dalam laporan Brand Footprint 2026 yang dirilis Worldpanel by Numerator.
Laporan tersebut menunjukkan hanya 44 persen merek FMCG yang mampu mencatat pertumbuhan sepanjang 2025. Angka itu menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 62 persen.
Managing Director Worldpanel Indonesia, Venu Madhav, mengatakan jumlah merek yang masuk dalam pemeringkatan meningkat dari 436 menjadi 451 merek. Kondisi tersebut membuat persaingan memperebutkan perhatian konsumen semakin tinggi.
"Konsumen masih berbelanja secara rutin, tetapi merek tidak lagi dapat mengandalkan pertumbuhan pasar semata. Memenangkan pembeli baru menjadi lebih penting daripada sebelumnya," kata Venu dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.
Laporan Brand Footprint menggunakan indikator Consumer Reach Points (CRPs). Indikator ini digunakan untuk mengukur seberapa sering konsumen memilih suatu merek berdasarkan jumlah rumah tangga yang membeli serta frekuensi pembeliannya.

Dalam daftar 10 merek FMCG yang paling banyak dipilih konsumen Indonesia tahun ini, Indomie masih menempati posisi pertama. Selanjutnya berturut-turut adalah So Klin, Mie Sedaap, Roma, Indofood, Royco, Kapal Api, NABATI, Masako, dan Frisian Flag.
Worldpanel mencatat rumah tangga Indonesia rata-rata membeli sekitar 95 merek kebutuhan sehari-hari dalam setahun dan melakukan sekitar 293 kali perjalanan belanja. Meski demikian, pertumbuhan merek kini semakin bergantung pada kemampuan menarik konsumen baru.
Sekitar 80 persen merek yang mengalami pertumbuhan berhasil meningkatkan penetrasi rumah tangga, baik melalui penambahan pembeli baru maupun peningkatan frekuensi pembelian. Temuan ini menunjukkan bahwa perluasan basis konsumen menjadi faktor utama pertumbuhan jangka panjang.
Di sisi lain, merek-merek skala kecil juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Saat ini, merek kecil mencakup 41 persen dari seluruh merek yang dipantau, naik dari 39 persen pada tahun sebelumnya. Lebih dari separuh merek tersebut berhasil mencatat pertumbuhan.
Beberapa merek yang dinilai mampu mempertahankan pertumbuhan antara lain Desaku dan Baby Happy. Desaku berhasil memperluas jangkauan melalui produk bumbu dan rempah dalam kemasan sachet yang terjangkau, sementara Baby Happy meningkatkan daya saing lewat inovasi produk, kemasan ekonomis, serta distribusi yang lebih luas di berbagai saluran penjualan.
Marketing Lead Worldpanel Indonesia, Corina Fajriyani, menjelaskan bahwa pertumbuhan merek yang berkelanjutan ditentukan oleh kemampuan memahami kebutuhan konsumen. Selain itu juga kemampuan merek menjaga relevansi dalam kehidupan sehari-hari.
"Keberhasilan merek tidak hanya bergantung pada loyalitas pelanggan. Namun, juga kemampuan menarik pembeli baru secara konsisten," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....