Program Mandatori B50 Hemat Devisa Negara Rp170 Triliun
- 10 Jul 2026 22:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah memproyeksikan program Mandatori Biodiesel B50 dapat menghemat cadangan devisa negara sebesar Rp170 triliun.
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan kesiapan teknis penggunaan B50 pada berbagai sektor transportasi dan industri.
- Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya pengelolaan kekayaan alam domestik untuk memperkuat kedaulatan energi nasional.
RRI.CO.ID, Karawang - Pemerintah memproyeksikan program Mandatori Biodiesel B50 mampu menghemat cadangan devisa negara sebesar Rp170 triliun. Kebijakan energi tersebut juga diproyeksikan mampu menyerap sekitar 2,1 juta orang tenaga kerja domestik.
Nilai tambah dari industri crude palm oil (CPO) diproyeksikan meningkat mencapai angka Rp23,49 triliun. Penerapan bahan bakar nabati ini juga diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon sebesar 44,46 juta ton.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan kesiapan teknis program baru tersebut. Kebutuhan biodiesel nasional untuk program ini diperkirakan mencapai kisaran 16,7 hingga 18 juta kiloliter (kL).
"Launching Program Mandatori B50 bukan sekadar peluncuran sebuah kebijakan, melainkan tonggak bersejarah yang menandai langkah nyata Indonesia dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional," ujar Bahlil saat mendampingi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Peluncuran B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.
Pertamina merilis data kesiapan pasokan energi terbarukan tersebut pada hari Jumat, 10 Juli 2026. Kebutuhan bahan baku kelapa sawit untuk program B50 diestimasi mencapai 15,2 hingga 16,3 juta ton.
Ia memaparkan bahwa pemanfaatan minyak kelapa sawit akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara luas. Uji coba teknis penerapan bahan bakar ini telah dilaksanakan secara matang pada berbagai sektor strategis.
"B50 bukan sekadar energi baru, tetapi bagian dari transformasi energi yang mengoptimalkan potensi Indonesia demi memperkuat ketahanan energi nasional sebagai fondasi pembangunan ekonomi bangsa," ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pengolahan kekayaan alam di dalam negeri secara mandiri. Tahapan program ini dirintis sejak B2,5 pada tahun 2008 hingga mencapai standar B40 kemarin.
"Kekayaan alam Indonesia tidak boleh lagi mengalir keluar tanpa memberikan nilai tambah bagi bangsa sendiri. Kita harus berani mengolahnya, menguasai teknologinya, membangun industrinya, dan menjadikannya sumber kedaulatan energi," kata Presiden.
Kementerian ESDM telah menguji kelayakan teknis bahan bakar nabati tersebut pada berbagai armada kendaraan. Pengujian dilakukan pada alat berat pertambangan hingga pembangkit listrik untuk memastikan performa mesin tetap terjaga.
Hasil uji tersebut membuktikan kelayakan penggunaan campuran minyak sawit pada sektor transportasi dan industri. Formulasi bahan bakar baru ini juga dinyatakan telah memenuhi standar teknis dari para pabrikan.
Uji coba juga berlangsung di Kutai Timur hingga Stasiun Lempuyangan Yogyakarta secara berkala dan konsisten. Lokasi lainnya mencakup Kapal Geomarin di Cirebon serta Instalasi Surabaya milik PT Pertamina Patra Niaga.
Pemerintah merancang program biodiesel nasional secara bertahap selama hampir dua dekade demi ketahanan energi. Pengembangan dimulai dari B10 pada 2013 lalu terus berlanjut hingga tingkat B35 pada 2023.
Penerapan kebijakan strategis ini diharapkan mampu meminimalkan ketergantungan impor bahan bakar minyak secara signifikan. Langkah tersebut sekaligus bertujuan untuk memperkuat daya saing industri dan kesejahteraan petani kelapa sawit.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....