Limbah B3 MIND ID Turun 38 Persen dalam Dua Tahun Terakhir

  • 18 Jun 2026 22:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Limbah padat B3 MIND ID turun 38 persen dalam dua tahun, dari 351 kiloton (2023) menjadi 217 kiloton (2025)
  • Penurunan limbah didorong oleh efisiensi operasional dan strategi keberlanjutan Sustainability Pathway.
  • Limbah padat B3 MIND ID turun 38 persen dalam dua tahun, dari 351 kiloton (2023) menjadi 217 kiloton (2025) limbah menjadi bagian dari strategi penciptaan nilai dan pengelolaan risiko perusahaan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, mencatat penurunan signifikan volume limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam dua tahun terakhir. Melalui berbagai upaya efisiensi operasional dan pemanfaatan kembali material sisa produksi, volume limbah B3 Grup MIND ID turun sekitar 38 persen, dari 351 kiloton pada 2023 menjadi 217 kiloton pada 2025.

Penurunan tersebut menjadi bagian dari implementasi strategi keberlanjutan perusahaan yang tertuang dalam kerangka Sustainability Pathway. Program ini mendorong pengelolaan sumber daya mineral yang bertanggung jawab, sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dari kegiatan operasional pertambangan.

Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi, mengatakan kebutuhan mineral strategis untuk mendukung transisi energi global harus diimbangi dengan praktik di lapangan. Khususnya, kegiatan penambangan yang semakin efisien dan berkelanjutan.

Menurut dia, meningkatnya permintaan terhadap aluminium, bauksit, nikel, tembaga, dan timah untuk kebutuhan baterai, kendaraan listrik, serta infrastruktur energi menjadi tantangan. Sekaligus peluang bagi industri pertambangan untuk memperkuat aspek keberlanjutan.

"Baik limbah B3 maupun limbah non-B3 terus menurun karena operasi dilakukan secara lebih efisien. Sehingga, limbah yang dihasilkannya pun semakin berkurang,” kata Binahidra dalam keterangannya, Kamis, 18 Juni 2026.

Selain limbah B3, volume limbah padat non-B3 juga mengalami penurunan. Pada 2023 jumlahnya mencapai 1.082 kiloton dan berkurang menjadi 956 kiloton pada 2025. Tren tersebut menunjukkan peningkatan efektivitas pengelolaan limbah di seluruh entitas Grup MIND ID.

Tidak hanya mengurangi timbulan limbah, MIND ID juga mengembangkan berbagai program pemanfaatan material sisa hasil produksi agar memiliki nilai tambah. Salah satunya dilakukan oleh PT Aneka Tambang Tbk melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka yang mengolah slag feronikel menjadi batako dan paving block dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 ton per tahun.

Sementara itu, PT Freeport Indonesia memanfaatkan tailing sebagai material agregat campuran paste backfill. Material ini digunakan untuk mendukung operasi tambang bawah tanah dengan kapasitas sekitar 1.500 kiloton per tahun.

Adapun PT Vale Indonesia Tbk memanfaatkan slag nikel untuk pembangunan jalan, infrastruktur tambang, dan stabilisasi lahan. Volume pemanfaatan material ini mencapai 5.300 kiloton per tahun.

Binahidra menegaskan bahwa pengelolaan limbah saat ini tidak lagi sekadar menjadi kewajiban kepatuhan terhadap regulasi. Namun, telah berkembang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah sekaligus mengelola risiko lingkungan dan operasional.

"Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi merupakan instrumen untuk mengelola dampak dan memitigasi risiko. Sekaligus, menciptakan nilai tambah jangka panjang yang bermanfaat bagi perusahaan, lingkungan, serta masyarakat," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....