Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan Tajikistan untuk Perluas Pasar Manufaktur
- 14 Jun 2026 19:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemenperin dan Tajikistan memperkuat kerja sama industri melalui BRICS PartNIR 2026 untuk memperluas akses pasar manufaktur Indonesia di kawasan Eurasia dan CIS.
- Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra strategis dan pintu masuk potensial bagi produk manufaktur nasional ke pasar Eurasia.
- Kedua negara menjajaki kerja sama pada sektor rantai pasok mineral kritis, farmasi, alat kesehatan, dan industri halal.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian memperkuat kerja sama industri dengan Tajikistan melalui forum BRICS PartNIR 2026 di Xiamen, Tiongkok. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses pasar manufaktur nasional di kawasan Eurasia dan Commonwealth of Independent States (CIS).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat mendorong inovasi, investasi, dan perluasan akses pasar bagi kedua negara.
"Kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk memacu inovasi dan memperluas akses pasar. Kolaborasi tersebut juga menciptakan peluang investasi yang memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak," kata Agus di Jakarta, Minggu, 14 Juni 2026.
Pertemuan bilateral berlangsung antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan Aziz Nazar. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026.
Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra penting sekaligus gerbang potensial untuk memperluas jangkauan produk manufaktur nasional. Posisi strategis negara tersebut dinilai dapat membuka akses yang lebih luas ke kawasan CIS.
"Kami terus meningkatkan peluang terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan melalui perluasan jejaring industri. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan investasi dan pengembangan kerja sama yang memberikan nilai tambah bersama," ujar Tri.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Tajikistan menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir. Nilai perdagangan kedua negara meningkat dari USD1,7 juta pada 2021 menjadi USD1,9 juta pada 2025 dengan kontribusi utama berasal dari sektor nonmigas.
Kedua negara juga membahas tindak lanjut inisiasi nota kesepahaman bidang industri yang diajukan Tajikistan. Pembahasan difokuskan pada penyempurnaan ruang lingkup kerja sama agar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing negara.
Indonesia dan Tajikistan turut mengidentifikasi sejumlah sektor yang berpotensi menjadi fokus kolaborasi. Sektor tersebut meliputi pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi dan alat kesehatan, serta ekosistem industri halal.
Dalam kesempatan itu, Indonesia juga memperkenalkan partisipasinya sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 di Ekaterinburg, Rusia. Keikutsertaan tersebut diharapkan dapat memperluas promosi produk manufaktur nasional dan membuka peluang kemitraan baru dengan pelaku industri global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....