KAI Targetkan Pangkas Emisi 133.676 Ton CO2e lewat B50

  • 14 Jun 2026 00:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan pemangkasan emisi sebesar 133.676 ton CO₂e melalui program biodiesel B50.
  • Perusahaan menguji ketahanan dinamis generator set selama 2.400 jam untuk mendukung transisi energi ramah lingkungan.
  • KAI menyerap anggaran bahan bakar minyak bersubsidi hingga mencapai realisasi 95.394.629 liter per Juni 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan penurunan emisi sebesar 133.676 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e). Langkah strategis dekarbonisasi tersebut akan dicapai melalui implementasi penuh program penggunaan bahan bakar nabati.

Perusahaan transportasi rel tersebut menargetkan total dekarbonisasi sebanyak 166.873 ton CO₂e dari tiga program. Pencapaian target ramah lingkungan itu juga didukung oleh efisiensi listrik serta program konservasi karbon.

“Transformasi energi Indonesia membutuhkan sektor transportasi yang mampu beradaptasi secara terukur. KAI memperkuat peran kereta api melalui roadmap biodiesel dari B0 menuju B50, dengan memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi,” ujar Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam keterangannya, Sabtu, 13 Juni 2026.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan rincian teknis transisi bahan bakar tersebut. Penggunaan bahan bakar nabati meningkat dari fase B20 pada 2018 menjadi B30 pada 2020.

“KAI mendukung kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan. Pada saat yang sama, kami memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel berjalan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan kepada pelanggan serta sektor logistik tetap aman dan andal,” ujar Anne.

Anne memaparkan bahwa uji coba bahan bakar B50 tersebut sudah berlangsung sejak bulan April 2026. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) digandeng untuk menguji lokomotif CC206 pada Kereta Api (KA) Sembrani.

“Hasil pengujian menjadi dasar evaluasi KAI, terutama terkait performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, aspek emisi, dan kebutuhan perawatan sarana. Prinsip kami jelas, transisi energi harus berjalan sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi,” kata Anne.

Ia mengungkapkan bahwa uji ketahanan dinamis generator set (genset) dilakukan selama 2.400 jam di Yogyakarta. Pengujian unit mesin MTU 2000 P02411 tersebut bertempat di wilayah Pengawas Urusan Kereta (PUK) Lempuyangan.

“Dukungan BBM subsidi dari pemerintah menjaga layanan kereta api tetap tersedia bagi masyarakat dan sektor logistik. Dalam masa transisi energi, dukungan ini membantu KAI menjaga keberlangungan operasional sambil menyiapkan penggunaan energi yang lebih rendah emisi secara bertahap,” ujar Anne.

Pihak regulator menyalurkan alokasi Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Kerja sama dilakukan bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Hingga tanggal 5 Juni 2026, realisasi pemakaian bahan bakar bersubsidi perusahaan mencapai angka 95.394.629 liter. Kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukur emisi Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek sebesar 34,03 gram.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....