IGCN: Praktik Bisnis Berkelanjutan Kian Menjadi Tuntutan Pasar Global

  • 05 Jun 2026 00:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IGCN menegaskan bahwa keberlanjutan (sustainability) harus menjadi bagian dari strategi inti bisnis, bukan sekadar program CSR.
  • Dunia usaha perlu menerapkan konsep responsible business yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola.
  • Ekonomi sirkular (circular economy) menjadi salah satu fokus utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kesadaran perusahaan Indonesia untuk menerapkan praktik bisnis berkelanjutan terus meningkat. Namun, banyak perusahaan yang masih memandang keberlanjutan sebatas program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), bukan sebagai bagian dari strategi utama bisnis.

Hal tersebut mengemuka dalam "IGCN Annual Members Gathering 2026" yang diselenggarakan oleh UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), di Jakarta Selasa, 2 Juni 2026. Sebagai jaringan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), IGCN memiliki misi membantu dunia usaha mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam operasional dan strategi perusahaan.

President IGCN Y.W. Junardy menegaskan bahwa paradigma dunia usaha saat ini telah berubah. Perusahaan memang tetap harus menghasilkan keuntungan, tetapi keuntungan tersebut perlu dicapai melalui praktik bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.

"Sekarang kita bukan lagi hanya berbicara soal profit, tetapi bagaimana menjalankan responsible business yang berkelanjutan," kata Junardy kepada wartawan di sela-sela kegiatan.

President UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), Y.W Junardy (Foto: Dokumentasi/IGCN)

IGCN mendorong perusahaan untuk menerapkan 10 Prinsip United Nations Global Compact yang mencakup penghormatan hak asasi manusia, perlindungan tenaga kerja, pelestarian lingkungan, dan pemberantasan korupsi. Organisasi ini juga aktif mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan kapasitas.

Dalam kesempatan tersebut, IGCN memaparkan sejumlah program prioritas yang tengah dijalankan. Salah satunya adalah pengembangan ekonomi biru melalui Ocean Centre yang berfokus pada keselamatan laut, pengelolaan ekosistem laut, serta penguatan industri rumput laut nasional.

"Indonesia saat ini merupakan salah satu eksportir rumput laut terbesar di dunia. Namun, tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk agar tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah," ujar Junardy.

Selain itu, IGCN juga mendorong pengembangan ekonomi sirkular, pengurangan emisi karbon, pemberdayaan perempuan, penguatan UMKM, serta pembangunan rantai pasok berkelanjutan.

Di bidang pendidikan, IGCN menjalankan IGCN Academy dan program KUPUKU Training yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas guru dari jenjang SD hingga SMA. Program ini bertujuan mendorong metode pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan, seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.

"IGCN menilai tuntutan pasar global turut mempercepat transformasi praktik bisnis berkelanjutan di Indonesia. Banyak perusahaan internasional kini mensyaratkan komitmen pengurangan emisi karbon, perlindungan hak asasi manusia, hingga penerapan rantai pasok berkelanjutan bagi mitra bisnis mereka," kata Direktur Kelautan dan Kelautan dan Perikanan Bappenas, Mohammad Rahmat Mulianda, menambahkan.

Karena itu, keberlanjutan tidak lagi dipandang sebagai pilihan tambahan, melainkan faktor penting yang menentukan daya saing perusahaan di tingkat global.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan media, IGCN optimistis target Suistainable Development Goals (SDGs) 2030 dapat terus didorong pencapaiannya dengan prinsip "No One Left Behind". Atau tidak ada pihak yang tertinggal dalam proses pembangunan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....