Konversi LPG ke CNG Dinilai Harus Bawa Keadilan bagi Masyarakat Madura

  • 13 Mei 2026 23:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Founder Bagasmara Gus Lilur menilai konversi LPG ke CNG menjadi momentum strategis penguatan ekonomi masyarakat Madura
  • konversi LPG ke CNG

RRI.CO.ID, Jakarta - Founder Bagasmara Gus Lilur menilai konversi LPG ke CNG menjadi momentum strategis penguatan ekonomi masyarakat Madura. Menurut Gus Lilur, konversi energi nasional juga harus menghadirkan keadilan ekonomi bagi masyarakat Madura sebagai daerah penghasil gas.

"Bagi Indonesia, ini agenda strategis. Tetapi bagi Madura, ini bukan hanya soal energi, melainkan soal keadilan dan masa depan masyarakat,” kata Gus Lilur dalam keterangannya, Kamis 13 Mei 2026.

Gus Lilur menilai Madura selama ini menjadi penopang utama kebutuhan gas industri di Jawa Timur melalui Kangean. Namun, manfaat ekonomi terbesar justru lebih banyak dirasakan kawasan industri di luar Madura.

“Gas Madura menghidupi industri besar di Jawa Timur. Tetapi masyarakat Madura sendiri masih banyak yang hidup dalam keterbatasan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi karena Madura kaya sumber daya alam. Tetapi belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari pengelolaan gas bumi.

Karena itu, Gus Lilur meminta pemerintah menjadikan konversi ini sebagai momentum pemerataan manfaat energi bagi daerah penghasil gas. Gus Lilur menyerukan konsep AMPERA agar masyarakat Madura dilibatkan dalam rantai bisnis gas nasional secara adil.

Gus Lilur mendorong pemerintah pusat, termasuk Kementerian ESDM, SKK Migas, Pertagas, dan PGN

Membuka ruang bagi pemerintah daerah, BUMD, koperasi, pesantren, dan pengusaha lokal Madura dalam pengelolaan ekosistem CNG.

Menurutnya, Madura layak menjadi salah satu pusat pengembangan mother station atau induk stasiun gas CNG nasional. "Madura harus mendapat ruang dalam pengelolaannya,” ujarnya.

Ia menegaskan keterlibatan masyarakat Madura tidak boleh sekadar simbolis, melainkan harus diwujudkan melalui kepemilikan saham. Pengelolaan usaha, transfer teknologi, hingga penciptaan lapangan kerja.

Diketahui, Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus menekan ketergantungan impor LPG lewat optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik. Pemerintah mengimplementasikan penggunaan CNG dan LNG sebagai alternatif energi lebih murah bagi masyarakat serta pelaku usaha.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyebut konsumsi LPG nasional terus meningkat setiap tahun. Menurut Laode, penurunan produksi LPG domestik menyebabkan meningkatnya beban subsidi serta devisa negara akibat tingginya impor.

“LPG kita sejak tahun 2012 turun terus. Kita akan terus menambah impor LPG kalau tidak bisa kita konversikan ke sumber yang lain,” kata Laode di kantor Energy Hub Epiwalk Kuningan, Jakarta, Selasa 5 Mei 2026.

Strategi konversi LPG didukung meningkatnya cadangan gas bumi nasional yang mencapai 55,85 TSCF per Januari 2025. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan alokasi gas domestik agar melampaui porsi ekspor pada tahun 2026.

“Roadmap detail (tahapan implementasi) sedang digodok dan akan diumumkan secara resmi oleh Menteri ESDM. Substitusi ini diprediksi mampu menghemat biaya energi hingga 30 persen dibandingkan LPG,” ujar Laode.

Pemerintah melalui Ditjen Migas terus berkoordinasi dengan perusahaan distribusi gas dan asosiasi industri terkait kesiapan infrastruktur. Koordinasi dilakukan untuk memastikan kesiapan implementasi kebijakan konversi energi sebelum diluncurkan resmi Menteri ESDM nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....