KAI Kolaborasi Amankan 1.810 Perlintasan Sebidang untuk Lindungi Keselamatan
- 06 Mei 2026 00:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggelar agenda penanganan pada 1.810 perlintasan sebidang untuk menekan risiko kecelakaan transportasi.
- Program keselamatan melibatkan Direktorat Jenderal Perkeretaapian untuk menutup 172 perlintasan berbahaya yang dapat mengancam keselamatan nyawa masyarakat.
- Perusahaan berencana mengintegrasikan teknologi berbasis komunikasi dan sistem kendali otomatis guna meningkatkan pengawasan pada berbagai wilayah operasi.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggelar agenda Kick Off Penanganan Perlintasan Sebidang pada Selasa, 5 Mei 2026. Kegiatan tersebut fokus untuk mengamankan 1.810 titik rawan kecelakaan yang tersebar di seluruh jalur kereta api Indonesia.
Seluruh pihak terkait menyepakati rencana penutupan 172 perlintasan sebidang guna meningkatkan keselamatan masyarakat saat beraktivitas di jalan. Pertemuan ini juga membahas upaya modernisasi sarana perlindungan pada 1.638 lokasi persilangan secara bertahap.
“Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa manusia. Perlintasan sebidang adalah titik temu dua sistem transportasi dengan pola operasi berbeda. Kereta tidak dapat berhenti mendadak, sementara lalu lintas jalan bersifat dinamis,” ujar Direktur Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan Allan Tandiono.
“Jika tidak dikelola dengan baik, risikonya sangat tinggi. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan transportasi,” ujar Allan Tandiono.
Allan Tandiono menyatakan perlindungan nyawa manusia harus menjadi dasar utama regulasi. Ia menilai penanganan titik bahaya butuh kolaborasi nyata dari pemerintah daerah serta dukungan aktif seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan data nasional terdapat sekitar 3.674 perlintasan sebidang yang dikelola. Data statistik 2023-2026 mencatat total 948 orang menjadi korban jiwa akibat benturan fisik pada area berbahaya tersebut.
Sementara, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan pesan bela sungkawa terhadap tragedi 27 April lalu. Ia mendesak adanya penguatan aspek teknologi demi mencegah potensi kerugian fisik bagi pengguna layanan.
“Kami menyampaikan duka cita atas kejadian pada 27 April 2026. Terdapat 16 korban meninggal dunia dan 17 pelanggan masih dalam perawatan, dengan kondisi yang terus membaik. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab keselamatan ada pada kita semua,” kata Bobby Rasyidin.
Ia menjelaskan penggunaan sistem kendali otomatis berbasis satelit akan segera dipasang di beberapa daerah rawan konflik. Pengembangan alat canggih tersebut bertujuan membantu petugas mengendalikan arus lalu lintas yang semakin padat dan sangat kompleks.
“Pengalaman menunjukkan bahwa penjagaan perlintasan mampu menekan risiko kecelakaan secara signifikan. Karena itu, langkah penjagaan, penguatan pengawasan, serta pemanfaatan teknologi harus dijalankan secara bersamaan,” ujarnya.
Danantara beserta Badan Pengaturan (BP) BUMN hadir memberikan dukungan penyelesaian proyek pengamanan lintasan tersebut. Sinergi ini juga melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna mengawasi implementasi program ini.
“Keselamatan adalah prioritas yang harus dijaga setiap saat. KAI bersama seluruh pemangku kepentingan akan menjalankan setiap langkah secara disiplin dan berkelanjutan, agar risiko di perlintasan dapat ditekan dan masyarakat dapat beraktivitas dengan rasa aman,” ucap Bobby.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....