Bahan Baku Bioplastik, DPR Dorong Percepatan Riset Singkong dan Rumput Laut
- 20 Apr 2026 09:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi VII DPR RI, Gandung Pardiman mendorong, Kementerian UMKM dan BRIN mempercepat riset terkait singkong dan rumput laut
- Bahan baku nabati tersebut, Gandung menilai, dapat menjadi solusi jangka panjang di tengah gangguan pasokan global
- Kalau UMKM berdaya dengan bahan baku lokal, petani sejahtera, impor turun, lingkungan terjaga
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI, Gandung Pardiman mendorong, Kementerian UMKM dan BRIN mempercepat riset terkait singkong dan rumput laut. Semua itu, demi mewujudkan bahan baku bioplastik di tengah naiknya harga plastik di Indonesia.
Bahan baku nabati tersebut, Gandung menilai, dapat menjadi solusi jangka panjang di tengah gangguan pasokan global. Oleh karenanya, penting mempercepat riset, standardisasi, dan sertifikasi produk bioplastik lokal agar bisa bersaing secara kualitas dan harga.
“Kalau UMKM berdaya dengan bahan baku lokal, petani sejahtera, impor turun, lingkungan terjaga. Ini yang disebut kemaslahatan," kata politikus Golkar ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 20 April 2026.
Gandung menegaskan, penting bagi pemerintah menyejahterakan para petani dan nelayan lokal. Sekaligus, membuat produk Indonesia bersaing di pasar internasional terkait bahan baku plastik ini.
"Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo. Agar semua sumber daya dalam negeri dimanfaatkan maksimal untuk daya saing industri nasional,” ucap Gandung.
Sebelumnya diberitakan, Menteri UMKM, Maman Abdurrahman mengungkapkan, rumput laut dan singkong sebagai alternatif bahan baku plastik. Opsi ini disiapkan untuk merespons kelangkaan dan kenaikan harga plastik.
Maman mengatakan, bahan baku nabati menjadi solusi jangka panjang di tengah gangguan pasokan global. “Rumput laut, singkong, baru dua itu saja yang bisa dipakai untuk plastik ini,” kata Maman, saat ditemui di Kompleks Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
Maman menyoroti, kelangkaan bahan baku plastik yang dipicu terhentinya pasokan nafta. Bahan baku berbasis minyak bumi itu banyak dipasok dari Asia Barat yang terdampak konflik
“Dari nafta yang kita impor dari luar. Kita ganti jadi produk-produk yang di Indonesia sudah cukup banyak,” ujar Maman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....