BPDP Kejar Target Produktivitas Sawit Tanpa Perluas Lahan

  • 12 Feb 2026 08:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) akan fokus pada upaya meningkatkan produktivitas sawit di tahun 2026. Peningkatan ini dikhususkan untuk Perkebunan Sawit Rakyat (PSR) yang berada di bawah pengelolaan BPDP.

BPDP merupakan unit yang berada di bawah dan bertanggung jawab pada Kementerian Keuangan yang tugasnya melaksanakan pengelolaan dana perkebunan. "Tahun ini kita akan fokus pada peningkatan produktivitas sawit tanpa harus menambah lahan," kata Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim dalam media briefing di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.

Untuk itu, lanjutnya, BPDP tahun ini menargetkan peremajaan kebun sawit rakyat seluas 50 ribu hektar. Utamanya kebun-kebun yang pohon sawitnya sudah tua dan produktivitasnya sudah berkurang.

Menurut Zaid, BPDP siap melakukan peremajaan lebih dari 50 ribu hektar tersebut, jika ada usulan tambahan lahan dari Kementerian Pertanian. "Sepanjang tahun 2025, peremajaan perkebunan sawit hanya terealisasi 42 ribuhektar, padahal potensinya sekitar dua juta hektar," ucapnya.

Ia mengatakan, target peremajaan perkebunan sawit adalah peningkatan produksi hingga 30 ton tandan buah segar per hektar per tahun. Saat ini, produksi tandan buah segar sawit hanya sekitar 20 ton per hektar.

Sampai saat ini, Indonesia masih menjadi penghasil sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Tapi dari sisi produktivitas, kata Zaid, Indonesia masih kalah dari Malaysia.

Padahal menurutnya lahan sawit Indonesia lebih luas dari Malaysia. Luas lahan sawit di Indonesia sekitar 12,9 juta hektar, sedangkan Malaysia hanya 5,04 juta hektar

Sedangkan tingkat produktivitas sawit Indonesia sebesar 3,63 metrik ton per hektar. Sedangkan tingkat produktivitas Malaysia sebesar 3,68 metrik ton per hektar per tahun.

"Ini artinya Indonesia masih punya peluang untuk meningkatkan produktivitas sawit dengan luas lahan yang ada sekarang," kata Zaid lagi. Pada akhirnya, kontribusi sawit pada perekonomian Indonesia juga akan meningkat sekaligus menambah penyerapan tenaga kerja.

Dari data BPDP, kontribusi perkebunan sawit pada perekonomian nasional meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020 kontribusinya sekitar USD18,4 miliar, meningkat menjadi USD30,5 miliar pada tahun 2025.

Pada tahun 2020, penyerapan tenaga kerja sebanyak 16,2 juta orang. Jumlah itu meningkat menjadi 19,5 juta orang di tahun 2025.

Saat ini, sawit juga menjadi andalan bagi sumber energi hijau, melalui program strategis B40 yang diterapkan pemerintah. B40 maksudnya mencampur 40 persen Bahan Bakar Nabati (BBN) berbasis minyak sawit dengan 60 persen solar.

Tujuan program ini untuk ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM. "Tahun 2024, program B40 berhasil menghemat devisa Indonesia sebesar Rp147,5 triliun," ujar Zaid.

Menurutnya program ini juga menjadi instrumen untuk menstabilkan harga sawit. Karena ketika produksi sawit sedang tinggi, tetap ada yang menampung untuk membuat biodiesel sehingga harga sawit tidak jatuh.

Meski demikian, Zaid mengakui adanya tantangan yang tidak ringan bagi sawit Indonesia. Diantaranya kampanye hitam oleh Uni Eropa bahwa Indonesia telah merusak hutan untuk memperluas perkebunan sawitnya.

Kampanye itu untuk menghambat ekspor minyak sawit Indonesia ke berbagai negara, khususnya ke kawasan Eropa. Dari data Gabungan Pelaku Usaha Sawit Indonesia (GAPKI) tahun 2021, ekspor minyak sawit ke kawasan Uni Eropa 4,63 juta ton

Tapi tahun 2022, ekspor CPO ke Uni Eropa turun menjadi 4,1 juta ton . Kondisi itu berlanjut di tahun 2023, ekspor CPO ke Uni Eropa anjlok menjadi 3,7 juta ton.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....