PLN Dukung Percepatan Hilirisasi Baterai IBC

  • 02 Feb 2026 20:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN menyatakan dukungan penuh terhadap langkah kolaborasi strategis PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dengan mitra globalnya. Dukungan ini disampaikan usai penandatanganan kesepakatan kerangka kerja yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 30 Januari 2026.

Proyek strategis hilirisasi industri baterai ini memiliki nilai investasi total mencapai angka enam miliar dolar Amerika Serikat. Rencana kapasitas produksi baterai listrik tersebut ditargetkan mencapai 20 gigawatt hour serta menyerap sekitar 10.000 pekerja baru.

“Saya ulangi arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengelolaan sumber daya alam, baik sekarang maupun ke depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Bahlil turut menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan serta tenaga kerja lokal dalam pengembangan ekosistem baterai di Jawa Barat. Hal serupa juga berlaku untuk pembangunan tambang dan pabrik hilirisasi yang berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara.

“Yang bisa dikerjakan dalam negeri, pakai tenaga kerja dalam negeri. Yang tidak bisa dikerjakan, baru ambil dari luar. Karena ini adalah bagian daripada komitmen kita,” kata Bahlil.

Proyek besar ini tidak hanya mendukung pengembangan kendaraan listrik tetapi juga mendorong pembangunan berbagai pembangkit listrik hijau. Baterai produksi dalam negeri ini nantinya dibutuhkan untuk mendukung program Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 100 gigawatt.

"Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil (listrik), tapi ini juga didesain untuk baterai panel surya," ucapnya.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjelaskan penandatanganan kesepakatan ini merupakan tahap awal dari perjalanan strategis perusahaan. Fokus utamanya bukan hanya pada kemitraan investasi semata tetapi juga penguasaan teknologi industri baterai dalam negeri.

"Melalui kemitraan dengan pelaku industri global terkemuka, kami ingin memastikan terjadinya transfer pengetahuan dan teknologi yang akan memperkuat fondasi industri baterai terintegrasi nasional dalam jangka panjang, sekaligus mendukung agenda transisi energi Indonesia,” ujar Aditya.

Aditya menyebut proyek ini akan memasuki tahap selanjutnya melalui pelaksanaan studi kelayakan bersama yang mengkaji seluruh aspek. IBC, PT Aneka Tambang (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD) berkomitmen menjaga kepentingan strategis nasional.

“Jadi, ini masih awal. Setelah ini masih akan ada joint feasibility study, baru nanti ada definitive agreement dan seterusnya. Jadi, ini awal dari perjalanan bersama ANTAM dan Konsorsium HYD. Kita harapkan, dalam tahun ini juga bisa diselesaikan,” ujarnya.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiatif pengembangan industri baterai terintegrasi yang sangat strategis ini. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya mewujudkan sistem kelistrikan nasional yang andal, berkelanjutan, serta berbasis produk lokal.

"Industri baterai terintegrasi menjadi elemen kunci dalam membangun sistem kelistrikan yang lebih adaptif dan andal. Bagi PLN, penguatan ekosistem baterai dalam negeri mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara optimal, mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik, serta memperkuat ketahanan pasokan energi nasional,” kata Darmawan dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 2 Februari 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....