Kemiskinan dan Kenekatan Bocah SD Mengakhiri Hidup

  • 09 Feb 2026 09:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

LAGI-LAGI kita dikagetkan dengan kabar yang cukup mengenaskan sekaligus memprihatinkan. Seorang bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) nekad mengakhiri hidupnya sendiri.

Mirisnya bocah yang masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD) ini diduga kecewa dan putus asa karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah. Sebab sebelum kejadian, korban berinisial YBR itu sempat meinta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena.

Namun, permintaan YBR tidak bisa disanggupi ibunya karena kondisi ekonomi mereka yang sangat sulit. Persoalan ini tentu harus menjadi catatan penting bagi pemerintah baik di daerah maupun pusat agar di masa mendatang tidak ada lagi nyawa yang meninggal sia-sia karena kemiskinan yang dialami.

Kita setuju dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena yang menyebut ada kegagalan sistem baik dari tingkat Provinsi, Kabupaten Ngada hingga ke tingkat bawah dalam mendeteksi dan membantu kesulitan yang dialami warganya. Kejadian ini merupakan tamparan keras bagi Pemerintah terutama Pemda di NTT yang selama ini sudah bekerja keras membangun daerahnya. 

Peristiwa ini sekligus sebagai pengingat akan pentingnya penguatan data untuk melakukan rehabilitasi bagi keluarga yang memerlukan pemberdayaan. Kasus ini hendaknya menjadi momentum bagi Pemerintah untuk segera menuntaskan masalah kemiskinan struktural. 

Bantuan sosial harus dapat menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan. Selain itu, Negara tidak boleh gagap dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan kehidupan yang layak.

Rekomendasi Berita