Mengenal Badik Laca Makassar

  • 24 Sep 2024 10:05 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Badik, bagi masyarakat Sulawesi Selatan khususnya Bugis- Makassar, memiliki nilai dan makna yang penting. Bukan sekadar sebagai senjata bela diri.

Lebih dari itu, badik memiliki nilai filosofis yang mendalam. la adalah senjata penjaga siri' dan pendamping jiwa'.

Dalam khasanah budaya Bugis-Makassar, lelaki wajib memiliki sebilah badik sebagai Pusaka. Seiring waktu, badik mengalami metamorfosis nilai dan fungsi.

Saat ini dianggap sebagai bagian dari warisan kekayaan budaya yang wajib dilestarikan. Badik mewakili semangat keberanian, harga diri, kehormatan dan spirit budaya masa lalu yang tetap relevan hingga saat ini.

Kajian tentang pusaka ini dapat menjadi jembatan untuk memperkuat nilai-nilai budaya, merawat semangat kebersamaan, dan membangun jejaring kebudayaan yang lebih luas untuk memperkuat nilai keberagaman bangsa Indonesia. Secara umum masyarakat mengenal Badik Makassar sebagai badik Lompobattang karena model bilahnya yang memiliki perut besar.

Berdasarkan penelitian ada enam Laca" (bentuk) yang dapat dikategorikan sebagai badik ras Makassar yang terindentifikasi dengan baik dan diakui oleh kalangan pemerhati, komunitas, dan pelestari pusaka. Beberapa Laca' masih menjadi perdebatan dan masih butuh penelusuran lebih lanjut.

Setiap Laca' dinamakan sesuai daerah asal tempat penempaanya. Sehingga Laca' bukan sekadar bentuk melainkan juga menjadi identitas wilayah.

Yuk kenali lebih dekat laca' badik Makassar

Taeng Badik jenis ini dianggap sebagai laca' (pakem) awal badik Makassar. Penamaan badik ini (de'de taeng) didasarkan pada tempat penempaanya yakni Taeng.

Saat ini Taeng merupakan nama sebuah desa yang terletak di kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Badik Taeng ditempa secara khusus oleh panrita (empu) kerajaan. Badik Taeng dahulunya hanya dimiliki oleh kalangan petinggi dan kerabat kerajaan Gowa.

Panjarungang Penamaan badik jenis ini merujuk pada nama asal badik ini ditempa. Panjarungan adalah nama sebuah dusun di Desa Massamaturu, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.

Dahulu diperuntukkan untuk kalangan alim ulama, pedagang/orang kaya, pejabat pemerintah kewilayahan dan pemberani atau laskar-laskar tidak resmi atau pemberani,.

Campagayya Badik jenis ini dikenal memiliki bilah beracun berwarna hitam keabu- abuan. Tidak mengutamakan pamor dan diproduksi sebagai senjata perang.

Penamaan badik Campagayya merujuk pada nama asal tempat badik ini ditempa. Saat ini Campagayya adalah nama salah satu desa di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar.

Dahulu menjadi senjata khusus bagi angkatan laut kerajaan Gowa. Badik ini kemudian dikaitkan dengan sepak terjang Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu dalam perang Makassar.

Badik Bogo/Lengkese' sering diidentikkan dengan badik lompo battang. Hal ini merujuk pada rancang bangun bilahnya yang memiliki perut buncit sedang bagian ujungnya sangat runcing.

Badik lacak ini digunakan oleh masyarakat Makassar pada umumnya dan meluas digunakan di wilayah Takalar bagian selatan hingga Jeneponto. Lompo battang memiliki arti perut besar.

Ada yang mengatakan bahwa bentuk badik ini mirip dengan lambung perahu. Yang lain menyebut lacak ini disebut bogo karena sisi tajamnya yang menyerupai lengkungan pada tempurung kelapa.

Kampung Batu. Penamaan jenis ini disesuaikan dengan asalnya yakni Kampung Batu di Kabupaten Bantaeng.

Laca'Kampung Batu memiliki bilah yang kecil pada pangkalnya dan secara bergradasi membundar dan melebar pada ujungnya yang menjadi ciri khas badik jenis ini. Sekilas, rancang bangun badik kampung batu memiliki kesamaan dengan badik bugis Gecong Raja dari Bone.

Seringkali diasosiasi sebagai bentuk khas pesisir dan mungkin terisnpirasi dari bentuk ikan tertentu.

Cindakko Badik jenis ini memiliki ciri khas pada pangkal (leher) yang terjal dan bentuk perut cenderung lurus. Secara umum digunakan di wilayah kerajaan Tallo dan Maros.

Cindakko merupakan nama salah satu dusun yang berada di Desa Bonto Somba kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros. Ada anggapan bahwa laca Cindakko' terbentuk dari pengaruh laca' panjarungan dan kawali Bugis.

Bentuk ini mendapatkan pengaruh bentuk dari Badik Pạnjarungang. Bentuk ini menjadi kontroversi dengan pemahaman bentuk Cindakko' yang lebih tua dengan bentuk lebih pipih dan mendapat pengaruh dari Tibok Luwu dan Kawali Bugis. (FJ)

Jenis Badik Laca Suku Makassar. (Sumber foto : rri/tangkapan layar)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....