Tedhak Siten, Warisan Budaya Jawa Sarat Akan Makna

  • 24 Sep 2024 01:02 WIB
  •  Surabaya

KBRN,Surabaya : Tradisi Tedhak Siten atau yang dikenal dengan istilah "Turun Tanah" merupakan salah satu ritual budaya yang berasal dari masyarakat Jawa. Meskipun saat ini semakin jarang dilakukan, tradisi ini menyimpan makna dan filosofi yang sangat dalam bagi perkembangan balita, khususnya pada usia tujuh bulan. Pada usia ini, secara alamiah anak mulai berusaha belajar berjalan, sehingga momen ini dianggap sangat penting dalam perjalanan hidupnya.

Kang Sholy, seorang Pambiwara (MC) tradisi Jawa dan penggiat budaya, menjelaskan bahwa kata "tedhak" berarti "mudun" atau turun, sedangkan "siten" berasal dari kata "siti" yang berarti "lemah" atau "tanah." Dengan demikian, dalam Bahasa Indonesia, tedhak siten dapat diartikan sebagai "Turun Tanah." Tradisi ini mengajak orang tua untuk memahami dan menyiapkan diri dalam proses pembelajaran anak, yang dimulai dari saat mereka belajar berjalan.

Filosofi di balik tradisi ini sangat mendalam. Orang tua diharapkan untuk siap melepaskan anaknya agar belajar berjalan di atas tanah, tanpa selalu bergantung pada gendongan.

"Tedhak siten mencerminkan harapan orang tua bahwa mereka akan senantiasa membimbing langkah-langkah si kecil, menemani dan memberikan arahan hingga saatnya anak tersebut mampu melangkah dengan mandiri dan bertanggung jawab."ujar kang Sholy

Prosesi Tedhak Siten biasanya melibatkan beberapa tahap yang memiliki makna tersendiri. Salah satunya adalah menginjak tetel (ketan) tujuh rupa. Dalam tradisi ini, ketan yang disiapkan dalam tujuh warna melambangkan berbagai hal yang akan selalu lekat dengan kehidpan manusian, baik suka, duka, cinta dan masih banyak lagi dengan harapan kelak si anak akan mampu melewati berbagai lika liku kehidupan dengan berani dan penuh keyakinan.

Selain itu, ada juga prosesi menaiki tangga. Menaiki tangga dalam tradisi ini mengandung simbol bahwa dalam kehidupan, anak harus siap menghadapi setiap proses kehidupan. "Makna yang terkandung dalam prosesi menaiki tangga ini harapannya agar si anak mampu melalui dan menghadapi tingkat kehidupan selanjutnya dari yang paling mudah, sulit hingga mencapai suatu kejayaan keberhasilan dan kebahagiaan,"ucap kang Sholy.

Prosesi lainnya adalah kurungan, di mana anak diletakkan dalam sebuah kurungan yang melambangkan perlindungan orang tua. Dalam tahap ini, ada harapan bahwa orang tua akan selalu melindungi dan menjaga anak, agar berkembang dengan baik di tengah lingkungan yang semakin kompleks. Ini adalah pengingat bahwa meskipun anak memiliki kebebasan untuk menjelajahi dunia, mereka tetap membutuhkan arahan dan perlindungan dari orang tua.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....