Dwikorita Karnawati: Hadapi Gempa, Kita Belajar dari Jepang

  • 22 Agt 2024 14:23 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya : Waspada akan bencana alam seperti gempa terus disosialisasikan, baik dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BMKG maupun para akademisi. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D, mengatakan warga masyarakat bisa belajar dari warga Jepang yang sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi gempa berskala besar.

"Jadi kita bisa belajar dari Jepang. Di Jepang, mereka sudah memiliki budaya, selalu mengamati perilaku gempa. Jadi, mereka sudah memonitor gempa ini, sudah dilakukan selama 1.137 tahun yang lalu. Terutama, mereka juga sudah mengamati gempa dengan dampak tsunaminya. Jadi ratusan tahun yang lalu. Nah, kemudian Jepang selalu menandai, mencatat urutan setiap aktivitas gempa bumi, dengan sangat baik, dengan teliti, runtut, dan sistematis," ujar Kepala BMKG.

"Kita ini dari BMKG ini, belajar dari Jepang. Dan yang menariknya, karena ini sudah lebih dari 1000 tahun, publik Jepang itu tidak mudah melupakan kejadian bencana alam gempa bumi," sambungnya.

Sementara itu, Muhammad Wafid, Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rabu (22/8/2024) dalam Webinar Waspada Gempa Megathrust, menanggapi isu tentang gempa bumi Megathrust dan potensi terjadinya tsunami yang saat ini muncul.

"Megathrust merupakan suatu istilah, yang menggambarkan gempa bumi, berukuran besar, kekuatan atau magnitudonya itu bisa sampai di atas 8, yang terjadi di zona subduction, yang merupakan tempat pertemuan, antara lempeng benua, dan lempeng samudra. Pertemuan tersebut membentuk zona subduction dengan kedalaman penunjaman hingga mencapai lebih dari 600 KM. Sumber gempa bumi Megathrust, apabila kedalaman kurang dari 50 km. Sedangkan, kalau lebih dari 50 km yang terjadi itu sering disebut Intraslab. Tentang gempa bumi Megathrust, dan potensi terjadinya tsunami, yang saat ini muncul, sebetulnya telah muncul beberapa kali. Antara lain, tahun 2004, kemudian tahun 2018, 2022, dan terakhir tahun 2024 ini, yang cukup masif di masyarakat," jelas Muhammad Wafid.

Sebelumnya, kekhawatiran ilmuwan Jepang terhadap Megathrust Nankai, sama persis yang dirasakan dan dialami oleh ilmuwan Indonesia. Istilahnya, tinggal menunggu waktu terjadinya gempa besar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....