Manisnya Jipang Al-Faruq Baubau Pemasarannya Tembus Papua
- 20 Agt 2024 13:21 WIB
- Baubau
KBRN, Baubau : Jipang menjadi cemilan rakyat sejak zaman dulu yang cukup dikenal di banyak daerah di Indonesia begitupun di Kota Baubau.
Manisnya jipang produksi rumahan berlabel Alfaruq yang terletak di Jalan ALkautsar Kecamatan Betoambari Kota Baubau ini nyatanya sudah sampai di lidah banyak orang di berbagai kota di Nusantara hingga ke Fak Fak Papua Barat.
Salah satu Oleh oleh Kota Baubau ini berbahan dasar beras putih , Gula Pasir dan gula aren yang dicapur kemudian menjadi kudapan manis.

Dalam sehari, Sri Yeniarni pemilik usaha jipang Al-faruq bersama belasan karyawannya mampu mengolah jipang dari 50 kilogram beras.
Omset dagangannya perhari bisa mencapai Rp 5 juta. Aktivitas membuat jipang di rumah produksi ini berlangsung enam hari dalam sepekan Senin - Sabtu. Puncak penjualan Jipang paling laris pasca lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.
Usaha yang telah berdiri sejak 2009 ini menyajikan empat varian rasa seperti original, coklat, kacang dan mede.
“Untuk Original kami produksi setiap hari, untuk tiga rasa lainnya sesuai pesanan konsumen,”tutur Yeniarni.
Selain pemasannya lewat pesananan dari pelanggan di berbagai daerah, usaha jipang Al-faruq juga dipasarkan di swalayan-swalayan.

Yeniarni menceritakan tahapan produksi membuat jipang mulai dari mengolah beras menjadi nasi, kemudian dikeringkan dengan bantuan alam sinar matahari. Selanjutnya beras kemudian digoreng dan dilanjutkan dengan proses membuat caramel dari gula aren yang kemudian dicampur menjadi adonan jipang yang siap cetak sesuai ukuran.
Wanita asal Kulisusu Kabupaten Buton Utara ini mengaku perolehan bahan baku tidak lah sulit, hanya saja fluktuasi harga beras, minyak goreng dan gula aren kadang membuat usaha ini meraup untung sangat tipis.
Tantangan lain dalam pembuatan jipang adalah saat musim hujan membuat bahan baku sulit untuk dikeringkan.

Bahkan Yeniarni menceritakan pengalamannya pernah merugi membuang beras kering sebanyak 150 kilogram.
“Terpaksa kami buang karena berasnya rusak dan berjamur dan jenis ini sudah tidak bisa dipakai,”bebernya.
Beras-beras tersebut tak dapat diselamatkan karena menghitam akibat jamur. Hal tersebut terjadi karena usahanya masih minim peralatan berupa alat pengering otomatis saat terjadi cuaca eksterim.
Harga jipang Al-faruq cukup terjangkau seribu rupiah per bungkus yang disediakan dalam kemasan besar mulai Rp 10.000, Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per pak, tegantung banyaknya isi per kemasan.
Usaha jipang Al-faruq sudah memiliki izin dari Pemrintah daereah setempat, bahkan kudapan ini telah memperoleh sertifikasi halal.
Yeniarni sempat memiliki 30 karyawan, nampun terpaan Pandemi Covid 19 beberapa tahun lalu membuatnya harus mengurangi karyawan untuk tetap bertahan hingga kini tersisa belasan orang.

Satu imipannya yang belum mampu diwujudkan adalah sebuah rumah produksi yang layak untuk memberikan rasa nyaman dan aman bagi belasan pekerjanya.
Ia pun berharap Pemerintah memberkan perhatian baik berupa alat pengering jipan bahkan rumah produksi sebab tempat karya wannya mencari rezeki bersifat darurat hanya berdinding atap seng dan saat musim hujan kerap bocor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....