Pendidikan Non Formal ala Save Street Child Surabaya
- 18 Jul 2024 17:09 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya : Setiap anak di Indonesia mempunyai hak untuk mendapatkan Pendidikan dalam program wajib belajar 12 tahun. Sesuai UUD 1945 pasal 31 ayat 1 & 2 telah dijelaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Namun implementasinya masih banyak ditemukan anak-anak yang tidak sekolah karena tidak terjangkau program sekolah gratis atau bahkan beasiswa dari pemerintah.
Surabaya menjadi kota metropolis kedua setelah Jakarta yang memiliki permasalahan hampir sama yaitu banyaknya anak putus sekolah, kaum marginal yang terpinggirkan oleh kerasnya kehidupan. Bukan keinginan mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak, namun ketidakmampuan orangtualah yang menjadi salah satu faktor mereka tidak sekolah. Di Surabaya terdapat salah satu komunitas yang berfokus pada pendidikan non formal untuk membantu anak-anak yang tidak mampu bersekolah tetap bisa mengenyam bangku Pendidikan meski tidak mendapatkan ijazah.
Ahmad Bagus Rohim, Kadiv Development Save Street Child Surabaya saat berbincang dengan RRI pada Sabtu lalu (6/7/2024) mengatakan komunitas ini hadir membantu anak-anak jalanan, anak putus sekolah yang sama sekali tidak mampu bersekolah.
"Dalam komunitas kami, memberikan pembelajaran kepada mereka yang tidak bisa sekolah. Kami punya program rutin yang selalu kami lakukan tiap minggunya,"ujarnya. Menurutnya Hari jumat ,sabtu dan minggu adalah hari operasional komunitas ini. Kenapa hanya akhir pekan saja? karena rata-rata yang menjadi pengajar di komunitas ini adalah pekerja, mahasiswa yang hanya mempunyai Waktu longgar saat akhir pekan saja.
"Tiga hari yang kami punya untuk adik-adik kita optimalkan, di hari jumat kami akan menggelar jumat sehat yaitu olahraga bersama, games seru dengan membagikan goody bag berisi snak atau makanan ringan. Kemudian hari sabtu kami gunakan untuk ekstrakurikuler layakanya sekolah pada umumnya," ucapnya.
Menurutnya nanti akan dipilah adik-adik yang punya minat bakat tertentu seperti tari, karate, koreografi hingga komputer. Sedangkan di hari minggu yaitu seperti les, di hari itu ada yang membantu adik-adik belajar sesuai dengan kelas masing-masing.
Rohim juga menambahkan tujuan didirikannya SSCS ini tidak lain ingin memberi kesempatan anak-anak yang kurang beruntung untuk bisa merasakan bangku Pendidikan. "Di Surabaya ini kan tidak hanya komunitas kami yang fokus membantu anak putus sekolah, setidaknya keberadaan kami bisa meringankan beban komunitas lainnya yang ingin memutus mata rantai kebodohan karena putus sekolah. Murni berdirinya komunitas ini untuk membantu adik-adik," kata Rohim
Komunitas Save Street Child Surabaya (SSCS) ini memiliki jumlah anggota sebanyak 250 anak, yang terbagi dari beberapa kategori tingkatan dari sekolah dasar hingga menengah atas. "Di SSCS ini anggotanya banyak ada sekitar 250 anak, sehingga dalam setiap pekan kita selalu berkeliling di beberapa wilayah yaitu di Kawasan ambengan dan tidar. Kami belajarnya di salah satu rumah warga dan juga di taman," ucapnya.
Basecampnya ada yang di jalan ngagel, namun untuk proses belajar di dua Kawasan yaitu ambengan di taman paliatif dan di kawasan tidar menggunakan rumah dari salah satu rumah warga. "Kenapa tidak berpusat di basecamp? karena kami yang mobile mendekati rumah adik-adik, kebetulan banyak dari mereka yang rumahnya di kawasan tidar dan ambengan," ujarnya.
Sampai saat ini baru 2 kawasan yang bisa kami jangkau karena keterbatasan tenaga sdm dan yang aktif bisa bergabung sampai saat ini tidak lebih dari 20 orang. Pihaknya juga selalu membuka lowongan sosial untuk para mahasiswa atau siapapun yang ingin bergabung. Para pengajar pun tidak mendapatkan gaji karena semua ini murni sosial, bahkan kami berdiri dengan dana sendiri untuk membantu adik-adik. "Sumber penghasilan kami adalah dengan berjualan, jadi keuntungan dari berjualan itulah yang kami gunakan untuk membantu adik-adik yang kurang beruntung,"katanya.
SSCS juga mempunyai program beasiswa dan juga pembiayaan kejar paket yang diperuntukkan bagi anggota SSCS. "Beasiswa yang kami sediakan memang tidak banyak, karena keterbatasan dana yang kami miliki. Bahkan pembiayaan kejar paket yang tersedia untuk adik-adik juga berasal dari swadaya anggota. Dulu kami pernah mendapatkan bantuan dari PLN, semacam bapak asuh komunitas ini. Namun semenjak selesai kontrak kami memutuskan untuk mandiri, dengan swadaya anggota pengajar. Bantuan yang sampai saat ini kami dapatkan biasanya lebih ke goodybag untuk jumat sehat," kata Rohim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....